
950 titik panas masih terdeteksi di Indonesia pada 20 Agustus 2026. Angkanya memang turun dari 2.170 titik sehari sebelumnya. Namun, penurunan itu belum mengubah persoalan yang sama: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang setiap musim kemarau.
Situs Sipongi Kementerian Kehutanan juga mencatat penurunan jumlah titik panas dari 1.536 menjadi 116 titik di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Data berdasarkan pemantauan satelit Terra-Aqua NASA dengan tingkat kepercayaan menengah dan tinggi ini menjadi perkembangan positif.
Di sisi lain, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip Kementerian Kehutanan, sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 90,79 persen wilayah mengalami curah hujan rendah dan 87,28 persen mengalami sifat hujan bawah normal. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang turut memperparah kondisi kering di Indonesia (Kementerian Kehutanan).
Artinya, kemarau tidak datang tanpa tanda. Musim kering dapat dipantau dan risiko kebakaran dapat diantisipasi. Tapi, ketika karhutla tetap terjadi setelah risiko diperingatkan, pertanyaan yang patut diajukan adalah, “apa yang masih kurang dari upaya pencegahan yang selama ini dilakukan?”
Karhutla meninggalkan dampak yang lebih nyata dari sekadar angka. Anida Rasya Rahmatika (Acom), Mahasiswi Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta asal Paser, Kalimantan Timur, mengatakan lahan sawit milik orang tuanya ikut terbakar sekitar 50-60 pohon.
“Iya, lahan sawitnya itu milik keluarga saya sendiri, milik orang tua saya. Untuk kejadian jelasnya kurang tahu, pada saat itu orang tua juga nggak melihat saat kejadian. Saat anak buah dari bapak saya yang mengabarkan kalau sawitnya terbakar, ada sekitar 50 sampai 60 pohon,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat (21/08/2026).
Acom mengatakan asap masih terasa di sekitar lokasi. Kondisi tersebut membuat udara terasa panas dan kering, serta mengganggu tenggorokan hingga menyebabkan batuk.
“Dampaknya sekarang ada asap di mana-mana, jadi hawanya panas, ke tenggorokan jadi gampang serak dan menyebabkan batuk. Untuk saat ini masih ada asapnya, cuacanya sangat panas, kemarau, kering gitu,” katanya.
Pengalaman karhutla juga disampaikan Cici, warga asal Sekadau, Kalimantan Barat, yang kini merantau di Pemalang. Saat masih tinggal di Kalimantan sekitar 13 tahun lalu, ia pernah mengalami langsung karhutla dan asap.
“Waktu masih tinggal di sana, setahu saya biasanya hutan dibakar untuk membuka lahan perkebunan, tapi hanya sesekali,” kisahnya saat diwawancarai pada Jumat (21/08/2026).
Cici juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai dampak kebakaran terhadap lingkungan, “pandangan saya, kasihan binatang yang ada di hutan, rumah mereka sudah tidak ada,” tuturnya.

Berulangnya bencana karhutla turut menjadi perhatian Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., pakar kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia mendorong pemerintah memperkuat pencegahan sejak dini dengan memanfaatkan sumber daya manusia, teknologi, dan pelibatan masyarakat. Menurutnya, pola kebakaran yang terus berulang, seharusnya menjadi kesempatan untuk mencegah kebakaran sebelum terjadi (umm.ac.id).
Sebagian masyarakat menduga persoalan tahunan ini bukan hanya sebagai kebakaran, namun sengaja dibakar. Pembukaan lahan gambut dengan pembakaran masih kerap terjadi sebagai jalan pintas menghemat biaya oleh berbagai perusahaan. Kecurigaan ini makin diperkuat dengan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang mengungkap sekitar 74 persen titik panas atau hotspot karhutla di Kalimantan berada dalam kawasan konsesi perusahaan (owrite.id).
Kondisi El Niño—meskipun sangat kuat—belum cukup menjelaskan mengapa kebakaran terus berulang di wilayah yang sama. Cuaca menentukan kapan lanskap mudah terbakar. Namun, pengelolaan tanah dan lahan menentukan seberapa mudah api menyala, meluas, dan bertahan. Penelitian tentang sifat fisik gambut Indonesia menunjukkan penurunan muka air tanah merupakan faktor penting dalam kekeringan gambut dan peningkatan bahaya kebakaran, terutama pada tahun El Niño.
Keberadaan kanal drainase dalam pembukaan lahan perkebunan bahkan memungkinkan kebakaran sekitar 4,5 kali lebih tinggi. Di tanah mineral, kebakaran juga meninggalkan dampak. Kajian di Journal of Forestry Research menunjukkan kebakaran berintensitas tinggi dapat mengurangi bahan organik, merusak organisme tanah dan stabilitas agregat, dan meningkatkan sifat hidrofobik (menolak air). Alhasil, terbentuklah lingkaran berbahaya: tanah kering memudahkan kebakaran, sementara kebakaran membuat tanah semakin rentan terhadap kerusakan dan kekeringan berikutnya (theconversation.com).
Pada akhirnya, respons reaktif seperti patroli dan pemadaman tidak akan menyelesaikan akar masalah jika tindakan pencegahan terus terabaikan. Karhutla yang berulang adalah cerminan dari lemahnya penegakan aturan. Pemerintah perlu mengambil langkah nyata melalui penegakan hukum yang tegas terhadap perusakan tata kelola hutan dan lahan gambut.
Kemarau dan El Nino memang tidak dapat dihindari. Tapi, risiko yang sudah dapat diprediksi seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat pencegahan lebih awal. Musim kering memang meningkatkan risiko karhutla, tapi tidak seharusnya menjadi bencana musiman yang terus dinormalisasikan.
Penulis: Suci Sutiani
Proofreader: Maryam Ishmah Mumtazah