
Pada Selasa (7/7/2026), Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang yang kembali beroperasi setelah tutup sejak 2020 akibat pandemi Covid-19 (perpusnas.go.id).
Gedung perpustakaan Jakarta satu ini mengabadikan nama salah satu pahlawan nasional perempuan Indonesia, Nyi Ageng Serang. Namun, siapakah sebenarnya sosok dibalik nama tersebut?
Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Adi atau Nyi Ageng Serang lahir di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, pada 1752. Ia merupakan putri Pangeran Notoprojo atau Panembahan Serang, seorang Bupati Serang yang kemudian diangkat menjadi panglima perang oleh Sultan Hamengkubuwono I.
Nyi Ageng Serang tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan Jawa dan masih berada dalam kekuasaan tradisional Jawa. Ia mewarisi semangat anti-kolonial serta jiwa patriotisme dari ayahnya.
Pada usia 17 tahun, ia dikirim ke Keraton Yogyakarta untuk mempelajari agama Islam, pelatihan militer, dan strategi perang. Karena hubungan dekat ayahnya dengan Sultan Hamengkubuwono I, ia dijodohkan dengan putra mahkota, Raden Mas Sundoro. Namun, pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada 1787.
Tak lama kemudian, ia menikah dengan Pangeran Muthia Kusumowijoyo atau Pangeran Serang I. Dari sinilah nama “Nyi Ageng Serang” berasal. Ia juga merupakan nenek dari R.M. Soewardi Surjaningrat atau Ki Hajar Dewantara (kompasiana.com).
Ketika Panembahan Serang tidak lagi mampu memimpin pasukan, kepemimpinan diserahkan kepadanya. Di tengah dominasi laki-laki dalam lingkungan keraton, Nyi Ageng Serang membuktikan kemampuannya sebagai seorang pemimpin.
Ia pernah memimpin pasukan di Desa Beku, Kabupaten Kulon Progo, dan dikenal dengan Siasat Daun Lumbu (daun keladi). Dalam strategi ini, para prajurit menutupi kepala mereka dengan daun lumbu sehingga dari kejauhan tampak seperti kebun lumbu. Setelah mendekati sasaran, pasukan segera menyerang musuh (vredeburg.id).
Pada 1825, di usia 73 tahun, Nyi Ageng Serang tetap turun ke medan perang. Ia memimpin pasukan dengan tandu dan bergabung dengan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Selain bertempur, ia juga menjadi penasihat strategi dan terlibat dalam perlawanan di Purwodadi, Demak, Semarang, dan Kudus. Setelah Perang Jawa berakhir, ia menghabiskan masa tuanya di Notoprajan, Yogyakarta, menjalani peran sosial dan spiritual di lingkungan keluarga (teknokrat.ac.id).
Nyi Ageng Serang wafat pada 1838 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 084/TK/Tahun 1974 tertanggal 13 Desember 1974 (jogja.prov.go.id). Kisah hidupnya menunjukkan bahwa nasionalisme dan semangat perjuangan tidak mengenal usia maupun gender. Meski telah berusia lanjut, ia tetap turun ke medan perjuangan dengan keberanian yang luar biasa. Ia juga membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin, menyusun strategi, dan mengambil peran penting dalam perjuangan bangsa.
Penulis: Fathma Mufidah Apriliani
Proofreader: Nurul Fahdilah