Soebagijo Ilham Notodidjojo, “Kamus Berjalan” Pers Indonesia

INTERPRETATIVE
Source image: Instagram: @Arbainrambey

Soebagijo Ilham Notodidjojo, atau yang lebih akrab dipanggil Soebagijo IN, adalah salah satu tokoh senior dalam dunia pers nasional. Ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 5 Juli 1924 dan wafat pada 17 September 2013 dalam usia 89 tahun.

Soebagijo tumbuh besar dalam keluarga pendidik. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Alhasil, sang ayah awalnya mengarahkan Soebagijo beserta empat saudaranya untuk menjadi guru. Hal tersebut membuatnya menempuh pendidikan di Sekolah Guru Tinggi (Kotoo Shihan Gakkoo) pada masa pendudukan Jepang. Setelah lulus, Soebagijo sempat mengajar selama tiga bulan. Akan tetapi, minat besarnya pada dunia tulis-menulis membuat Soebagijo akhirnya memilih jalur jurnalisme. Minat ini sendiri telah tumbuh sejak kecil karena ia gemar membaca surat kabar langganan patungan milik ayahnya.

Perjalanan profesional Soebagijo dimulai pada Juli 1946, saat ia resmi bergabung dengan Kantor Berita Antara Pusat di Yogyakarta. Ia langsung dipercaya memegang tugas berat untuk meliput agenda Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Karier jurnalistik Soebagijo terus berkembang pesat. Pada tahun 1949, Soebagijo dipercaya menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Panjebar Semangat di Surabaya sekaligus menerbitkan buku biografi pertamanya, Pengukir Soekarno. Ia kemudian kembali ke Biro Antara Jakarta pada tahun 1957.

Tidak hanya berkiprah di dalam negeri, jejak Soebagijo juga merambah ke dunia internasional. Ia ditugaskan memimpin perwakilan Kantor Berita Antara di Beograd, Yugoslavia, pada kurun waktu 1966–1968. Sekembalinya ke Indonesia pada 1968, ia menjabat sebagai Kepala Perpustakaan dan Dokumentasi LKBN Antara hingga pensiun pada tahun 1981. Posisi strategis tersebut sangat membantunya dalam mengumpulkan berbagai dokumen dan arsip penting pers nasional.

Setelah pensiun dari Antara pada 1981, Soebagijo semakin produktif menulis. Ia bekerja sama dengan penerbit Gunung Agung milik Haji Masagung dan aktif melacak data pustaka serta melakukan wawancara sejarah lisan (oral history). Salah satu karya pentingnya adalah Jagad Wartawan Indonesia (1981). Buku setebal 638 halaman ini merangkum riwayat hidup 111 tokoh pers nasional, termasuk mengangkat kembali figur perintis pers, Tirtohadisoerjo.

Buku-buku biografis Soebagijo menjadi rujukan untuk mengenal dan memahami perjalanan sejarah pers di Indonesia. Sepanjang hidupnya, ia berhasil menerbitkan kurang lebih 42 buku biografi dan sejarah, termasuk buku PWI di Arena Masa (1998), yang sempat memicu diskusi hangat di kalangan insan pers. Atas komitmen dan karya-karyanya tersebut, Komunitas Hari Pers Nasional menganugerahinya penghargaan Press Card Number One (Kartu Pers Nomor Satu) pada 9 Februari 2012.

Meskipun menulis tentang banyak tokoh besar dan pejabat negara, Soebagijo IN memilih untuk tetap menjalani hidup secara sederhana. Kediamannya di Ciputat menjadi ruang penyimpanan lebih dari 3.000 buku koleksi sejarah, termasuk dokumen langka Kamus Jawa-Belanda cetakan tahun 1875. Koleksi perpustakaan pribadinya ini sering kali menjadi tempat bertanya dan rujukan penting bagi mahasiswa serta peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri. Di kalangan dunia media, ia pun kerap dijuluki sebagai “kamus berjalan” atau “ensiklopedia hidup” pers tanah air.

Kini, tokoh tiga zaman tersebut telah dimakamkan di Pemakaman Giritama, Tangerang. Istrinya, Siti Soepilah, menceritakan bahwa hingga malam sebelum wafat, Soebagijo masih aktif menulis dengan mesin tik manual kesayangannya. Dedikasinya mendokumentasikan perjalanan para perintis pers membuat namanya tak hanya tercatat dalam sejarah pers Indonesia, tetapi juga dalam buku-buku yang ia tinggalkan.

Penulis: Aini Mukaromatul Agnia (anggota magang)

Proofreader: Siti Nur Khabibah (anggota magang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *