Bumi Tak Butuh Ditolong, tetapi Kita yang Butuh Selamat

INTERPRETATIVE
Source image: Tempo

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar “krisis lingkungan”? Apakah yang tergambar adalah kebakaran hutan di pulau seberang? Atau satwa langka yang terancam punah? Padahal, dampaknya sudah lama hadir, bahkan sampai ke piring makan kita setiap hari.

Tahukah kamu? Sampah plastik yang kita buang sembarangan dan menumpuk di sungai itu tidak benar-benar lenyap. Sampah tersebut akan terurai menjadi serpihan kecil tak kasatmata, tertelan oleh ikan-ikan di laut, dan bahkan mencemari bahan pangan yang kita konsumsi. Artinya, sampah yang kita buang dapat kembali memengaruhi rantai makanan yang kita konsumsi (TIMES Indonesia, 2026).

Di kota-kota metropolitan, kualitas udara kini telah menjadi persoalan serius. Berdasarkan data dan kajian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, emisi kendaraan dan aktivitas industri berkontribusi nyata terhadap pencemaran udara yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Tekanan ekologis perkotaan ini tidak berhenti di udara saja. Masalah lingkungan juga merembet ke kawasan pesisir kita. Sejumlah faktor, seperti alih fungsi lahan pesisir, masifnya pengambilan air tanah, serta persoalan tata ruang, kini memperparah ancaman krisis lingkungan, mulai dari krisis air bersih hingga ancaman banjir rob dan amblesan tanah di wilayah pesisir.

Pertanyaannya, mengapa semua krisis ini bisa terjadi berulang kali dan seolah tanpa jalan keluar? Selama ini, krisis lingkungan sering kali dianggap semata-mata sebagai akibat dari musibah alam. Padahal, persoalan lingkungan juga berkaitan dengan cara manusia memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kelestariannya.

Aktivitas ekonomi dan industri juga meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam, terutama ketika tidak diimbangi dengan pengelolaan dan pengawasan lingkungan yang memadai. Penurunan kualitas lingkungan perkotaan dapat berdampak lebih berat pada kelompok masyarakat rentan, seperti warga berpenghasilan rendah.

Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dan kolektif melampaui sekadar keprihatinan atau tindakan individual untuk mengatasi persoalan ini.

Merawat bumi hari ini bukan lagi sekadar gaya hidup yang keren di media sosial. Upaya menjaga lingkungan juga perlu melihat kebijakan dan praktik industri, termasuk risiko greenwashing atau klaim ramah lingkungan yang tidak sejalan dengan praktik sebenarnya. Studi mengenai perilaku pasar menunjukkan bahwa penggunaan istilah umum seperti ‘ramah lingkungan’ atau ‘alami’ tanpa rincian proses produksi berpotensi mengaburkan dampak lingkungan yang sesungguhnya dan menyulitkan konsumen dalam menilai produk secara objektif. Namun, perubahan perilaku individu perlu berjalan bersama dengan kebijakan dan pengawasan yang mendorong praktik industri yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Ketika tanah amblas dan kualitas air serta pangan menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh kehidupan masyarakat. Bumi telah ada jauh sebelum manusia dan akan terus berlangsung setelah kita tiada. Persoalannya bukan apakah Bumi membutuhkan kita, melainkan apakah kita mampu menjaga ruang hidup yang selama ini menjadi tempat kita bergantung.

Penulis: Siti Nur Khabibah (anggota magang)

Proffreader: Aini Mukaromatul Agnia (anggota magang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *