
Setiap kali membuka layar ponsel, kita disambut gelombang berita yang seolah tak pernah berbelas kasih. Di tengah banjir informasi (information overload) yang memicu kelelahan mental, mindfulness, yaitu kemampuan hadir dan menyadari pikiran serta emosi tanpa menghakimi, kerap dipandang sebagai cara menghadapi tekanan. Namun, apakah mindfulness membantu menghadapi realitas atau justru menjauh darinya?
Dalam buku Mindfulness Based Cognitive Counseling (MBCC) karya Mulawarman dkk. dan Mindfulness dan Kesehatan Mental karya Dayat Suryana, mindfulness dibahas sebagai salah satu pendekatan untuk mengelola stres. Lalu, bagaimana konsep ini bekerja di tengah riuhnya krisis sosial?
Di tengah maraknya kabar buruk, mindfulness juga dapat dipandang sebagai bentuk egosentrisme baru, pelarian dari realitas, hingga dalih untuk menutup mata dari persoalan publik. Membatasi konsumsi berita demi menjaga kesehatan mental kerap dicap sebagai bentuk apati. Kritik ini tidak sepenuhnya keliru karena krisis sosial memang membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar imbauan untuk “tetap tenang”.
Mindfulness bukan berarti meniadakan emosi. Rasa marah terhadap ketidakadilan atau kesedihan atas suatu peristiwa tetap dapat hadir, tetapi emosi tersebut perlu disadari agar tidak langsung mendorong kita pada respons yang reaktif. Salah satu persoalan di ruang digital hari ini adalah kecenderungan untuk bereaksi terlalu cepat, ketika emosi bergerak lebih cepat daripada pertimbangan.
Oleh karena itu, dalam konteks ini, mindfulness dapat dimaknai sebagai jeda strategis melalui tiga langkah sederhana:
- Jeda: Mengambil jeda sejenak saat membaca berita yang memancing emosi agar kita dapat merespons dengan lebih tenang dan sadar.
- Saring: Membatasi konsumsi informasi untuk menjaga kapasitas perhatian dari kebisingan yang tidak perlu.
- Bertindak: Menyalurkan kesadaran jernih pada aksi nyata, seperti menolak menyebarkan hoax dan terlibat dalam gerakan sosial.
Menjaga ketenangan pikiran di ruang digital yang bising bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap kepedulian sosial. Kita tidak perlu berpura-pura kebal terhadap masalah, sebagaimana kita juga tak perlu membiarkan diri hancur digulung amarah yang tak berarah. Mindfulness hadir memberi ruang bagi kesadaran, empati, dan kejernihan berpikir untuk duduk bersama membimbing kita agar tetap peka terhadap realitas sekitar, tanpa harus kehilangan kendali atas diri sendiri.
Penulis: Kamila Nurisa’adah (Anggota Magang)
Proofreader: Firda Husnia Rahmah (Anggota Magang)