Bus Kampus IIQ Jakarta Hubungkan Asrama dengan Kampus Utama

INTERPRETATIVE
Dokumentasi Penulis, 2026

TANGERANG SELATAN – Bus kampus IIQ Jakarta menjadi fasilitas transportasi bagi mahasiswi yang tinggal di Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, Pamulang Timur, menuju Kampus Pusat IIQ Jakarta di Ciputat. Keberadaan bus ini mempermudah mobilitas mahasiswi, meski masih terdapat kendala seperti ketidakpastian waktu keberangkatan dan kondisi kenyamanan selama perjalanan.

Keberangkatan bus mengikuti jadwal perkuliahan, khususnya pada Senin hingga Kamis. Informasi jadwal disampaikan melalui grup pesan untuk menyesuaikan waktu keberangkatan dengan jadwal kelas masing-masing.

Menurut pengalaman Mutamimah, mereka yang mengikuti perkuliahan pukul 07.30 biasanya berangkat dari pesantren sekitar pukul 05.30–05.45, dengan keberangkatan paling lambat pukul 06.30. Sementara itu, mahasiswi yang masuk pukul 09.20 biasanya berangkat sekitar pukul 08.30.

Namun, berdasarkan pengalaman Mutamimah, waktu keberangkatan bus terkadang tidak konsisten. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian mahasiswi tertinggal bus dan harus menggunakan transportasi lain.

Mutamimah, mahasiswi semester 7 Program Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, mengatakan bahwa perjalanan menggunakan bus juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan teman dari kelas lain dan teman pesantren yang berbeda kamar.

“Salah satu hal yang menyenangkan dari penggunaan bus adalah kesempatan untuk bertemu dan berbagi cerita dengan teman-teman dari kelas lain maupun teman di asrama yang sudah berbeda kamar. Selain itu, penggunaan bus juga cukup membantu dalam menghemat uang jajan karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi secara rutin,” ucapnya.

Meskipun menghemat biaya, perjalanan menggunakan bus juga memiliki kendala kenyamanan. Kondisi bus yang penuh membuat sebagian mahasiswi harus berdiri selama perjalanan, terutama ketika pendingin udara tidak berfungsi dengan baik.

“Terkadang, kondisi di dalam bus terasa cukup panas. Terutama ketika bus penuh, tidak mendapat tempat duduk dan AC dalam bus tidak berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut membuat perjalanan terasa lebih melelahkan karena harus berdiri dalam keadaan panas,” ujar Mutamimah.

Kendala tidak hanya terjadi selama perjalanan menuju kampus. Menurut pengalaman Mutamimah, adakalanya bus perlu menunggu penumpang dari kelas lain hingga jumlah penumpang cukup sebelum berangkat.

Setelah perkuliahan selesai, waktu kembalinya bus ke pesantren bergantung pada jadwal kelas. Menurut pengalaman Mutamimah, mahasiswi yang selesai pukul 11.00 biasanya tiba di pesantren sekitar waktu dzuhur atau setelahnya. Sementara itu, mahasiswi yang selesai pukul 12.50 biasanya tiba sekitar pukul 13.30–14.00.

Bus kampus tetap membantu mobilitas mahasiswi sekaligus mengurangi pengeluaran transportasi harian. Namun, ketepatan waktu keberangkatan dan kenyamanan selama perjalanan masih menjadi catatan dalam penggunaan fasilitas tersebut.

Penulis: Aini Mukaromatul Agnia (Anggota Magang)

Proofreader: Siti Nur Khabibah (Anggota Magang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *