Harga Murah, Dampak Tak Murah: Menelisik Jejak Fast Fashion

INTERPRETATIVE
Source image: Unplash

Membeli pakaian baru sering kali menjadi cara seseorang memperbarui penampilan. Beragam model, harga terjangkau, dan tren yang terus berganti membuat kegiatan berbelanja semakin menarik. Tidak sedikit orang membeli pakaian bukan hanya karena kebutuhan, melainkan juga karena keinginan untuk mengikuti tren. Kebiasaan membeli pakaian untuk mengikuti tren ini turut mendorong berkembangnya fenomena fast fashion.

Fast fashion merupakan fenomena industri pakaian yang menghadirkan tren terbaru dalam waktu singkat dengan harga terjangkau. Kehadirannya semakin diperkuat oleh media sosial melalui inspirasi berpakaian, rekomendasi produk, hingga tren busana yang viral. Kondisi ini mendorong masyarakat terus membeli pakaian baru karena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren yang sedang populer (Blase et al., 2024).

Kebiasaan tersebut menciptakan siklus beli, pakai, lalu buang. Namun, di balik tren fast fashion, terdapat persoalan yang luput dari perhatian, yaitu dampaknya terhadap lingkungan.

Di Indonesia, limbah tekstil menjadi persoalan yang patut diperhatikan. Berdasarkan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045, limbah tekstil pascakonsumsi di Indonesia diperkirakan mencapai 462 ribu ton atau sekitar 2,6 persen dari total timbulan sampah. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena sekitar 88 persen limbah tekstil pascakonsumsi masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar, sedangkan hanya sekitar 12 persen yang didaur ulang (Bappenas, 2024).

Persoalan limbah tekstil tidak berhenti pada pakaian yang berakhir sebagai sampah. Pakaian berbahan sintetis juga dapat melepaskan serat mikro ketika dicuci. United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut bahwa pencucian tekstil sintetis diperkirakan menyumbang sekitar 35 persen mikroplastik yang masuk ke lautan (UNEP, 2020; Boucher & Friot, 2017).

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pakaian memiliki perjalanan panjang, mulai dari proses produksi hingga pengelolaannya setelah tidak digunakan. Oleh karena itu, kesadaran dalam mengonsumsi pakaian menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak dari fast fashion. Meski demikian, perubahan perilaku konsumen perlu diiringi tanggung jawab industri dalam memproduksi pakaian secara lebih berkelanjutan dan mengelola limbah tekstil.

Salah satu pendekatan untuk mengurangi konsumsi pakaian berlebihan adalah capsule wardrobe, yaitu koleksi pakaian terbatas yang setiap potongnya dapat dipadupadankan untuk menghasilkan berbagai penampilan (Bardey et al., 2022). Penerapannya cukup sederhana, yaitu dengan memilah pakaian yang sudah dimiliki, membeli pakaian yang mudah dipadukan, dan mengutamakan kualitas serta daya tahan. Misalnya, beberapa atasan dan bawahan dengan warna netral dapat dikombinasikan menjadi berbagai gaya tanpa harus membeli pakaian baru setiap kali ingin tampil berbeda.

Pada akhirnya, tampil menarik tidak harus berarti mengikuti setiap tren yang muncul. Dengan memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki dan lebih bijak dalam membeli, kita dapat mulai mengurangi konsumsi berlebihan. Sebab, upaya mewujudkan industri fesyen yang lebih berkelanjutan tidak hanya membutuhkan pilihan yang bertanggung jawab dari konsumen, tetapi juga komitmen industri untuk mengurangi dampak lingkungannya.

Penulis: Aini Mukaromatul Agnia (Anggota Magang)

Proofreader: Siti Nur Khabibah (Anggota Magang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *