
Ada yang berbeda di lingkungan kampus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta ketika bunga tabebuya mulai bermekaran. Kelopak merah muda menghadirkan pemandangan baru di antara rutinitas mahasiswa menuju ruang kelas dan kesibukan menyelesaikan tugas.
Kehadirannya memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar mempercantik pemandangan. Di balik keindahannya, pohon tabebuya memiliki peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan. Tatebuya (Tabebuia rosea) merupakan pohon rindang berkanopi lebat yang dapat memberikan keteduhan. Penelitian Gustin & Sutrisno (2024) juga membahas peran tatebuya dalam kaitannya dengan kualitas udara. Tatebuya efektif menyerap polutan udara seperti karbon monoksida (CO) dan partikulat. Keberadaan ruang hijau ini secara langsung menciptakan ekosistem kampus yang lebih sejuk, nyaman, serta mendukung iklim belajar mahasiswa.
Hal tersebut dirasakan Mahdewi Putri Deli, mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 3. Baginya, mekarnya bunga tabebuya menghadirkan pemandangan yang menyenangkan sekaligus mengingatkannya pada suasana dalam film-film Jepang.
“Bunga-bunganya bikin mood ngampus lebih fresh, apalagi kalau lagi banyak tugas atau pulang kuliah, melihat bunga yang bermekaran rasanya seperti mendapat mood dari alam,” tuturnya.
Pengalaman tersebut selaras dengan studi psikologi lingkungan oleh Putra & Nurhadi (2020) yang memaparkan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau di lingkungan kampus berkontribusi positif terhadap kesehatan mental mahasiswa. Interaksi visual dengan ruang hijau mampu memulihkan fokus mental (Attention Restoration Theory) serta menurunkan tingkat stres akibat beban akademik.
Namun, keindahan tatebuya tidak seharusnya hanya dinikmati saat musim berbunga. Mekarnya bunga memang menarik perhatian, tetapi keberlanjutan lingkungan kampus membutuhkan kepedulian yang konsisten. Kampus yang nyaman bukan hanya terbentuk dari estetika tanaman yang sedang mekar, melainkan dari kesadaran bersama untuk merawat fasilitas dan ekosistem di sekitarnya secara terus-menerus.
“Kalau lingkungan kampus indah, pasti kita juga jadi lebih sayang dan merasa ikut punya tanggung jawab buat menjaganya,” tambahnya.
Kepedulian tersebut dapat dimulai melalui tindakan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tanaman, menjaga kebersihan area sekitar, serta mendukung perawatan ruang hijau. Upaya penghijauan juga perlu diiringi pemeliharaan yang berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Bunga tabebuya mungkin akan gugur seiring bergantinya musim, tetapi kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak ikut memudar. Dari pepohonan yang menaungi jalan kampus hingga ruang hijau yang menemani mahasiswa beraktivitas, setiap sudut memiliki nilai ketika dijaga bersama. Sebab, kampus yang benar-benar indah bukan hanya kampus yang sedap dipandang saat bunga bermekaran, melainkan kampus yang penghuninya turut mengambil bagian dalam merawat kehidupan di sekitarnya.
Penulis: Kamila Nurisa’adah (Anggota Magang)
Proofreader: Firda Husnia Rahmah (Anggota Magang)