Ali Sastroamidjojo: Sang Penggerak Utama di Balik Keberhasilan Konferensi Asia-Afrika 1955

INTERPRETATIVE
Source image: Elshinta

Dunia telah menyaksikan lahirnya solidaritas baru antara negara-negara Asia dan Afrika melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung pada 18-24 April tahun 1955 di Bandung. Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah internasional. Dua puluh sembilan negara Asia-Afrika yang berpartisipasi dalam KAA membentuk perlawanan bersama yang kuat terhadap kolonialisme serta dominasi kekuatan Blok Barat maupun Timur.

Namun, setelah KAA berhasil diselenggarakan, sosok Sukarno lebih banyak dikenang karena pidato dan kharismanya yang menggema di hadapan dunia. Padahal, di balik keberhasilan forum besar tersebut, terdapat peran penting Ali Sastroamidjojo sebagai penggerak utama yang luput dari sorotan.

Ali Sastroamidjojo lahir di Grabag, pada 21 Mei 1903. Seorang keturunan dari keluarga bangsawan Kabupaten Magelang. Keluarga Ali Sastroamidjojo memberikan dukungan penuh kepadanya untuk menempuh pendidikan Barat, sehingga ia melanjutkan studi hukum di Universitas Leiden, Belanda, dan berhasil lulus pada tahun 1927.

Pada tahun 1928, Ali dipulangkan ke Jawa pasca ditahan oleh pihak Belanda karena mengikuti organisasi Jong Java (1918-1922) dan Perhimpunan Indonesia (1923-1928). Kemudian, ia diangkat menjadi Menteri Pengajaran pada tahun 1947-1948 hingga dipercaya menjadi Perdana Menteri Indonesia pada 1 Agustus 1953.

Sebagai Perdana Menteri Indonesia saat itu, ia memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan dengan dunia internasional. Salah satunya adalah menjadi perwakilan Indonesia dalam Konferensi Kolombo pada tahun 1954. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk mencetuskan gagasan mengenai kerja sama politik bagi negara-negara Asia dan Afrika.

Gagasan mengenai pentingnya kerja sama politik antarnegara Asia dan Afrika sebenarnya telah muncul sejak ia menjalani studi di Leiden. Pada saat itu, ia banyak bertemu dengan aktivis antikolonial dari Asia dan Afrika. Ia juga mengikuti Himpunan Indonesia yang merupakan pergerakan antikolonial Indonesia di Belanda (Tirto.id). Selain itu, gagasan tersebut juga merupakan respons terhadap dampak Perang Dunia II. Sehingga pada akhirnya, gagasan tersebut dapat terwujud dalam bentuk Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

Meskipun pada awalnya terdapat penolakan dari beberapa perwakilan negara Asia dan Afrika dalam Konferensi Kolombo, ia tetap berupaya mewujudkannya dengan membangun kepercayaan agar Konferensi Asia-Afrika dapat terwujud, salah satu langkahnya dengan menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah konferensi tersebut.

Keputusan menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah bukanlah hal yang mudah, karena pada saat itu Indonesia masih berada pada fase awal sebagai negara merdeka. Namun demikian, Ali Sastroamidjojo tetap mengerahkan upaya demi terselenggaranya konferensi tersebut, mulai dari mempersiapkan pelaksanaan konferensi bersama kabinetnya hingga memimpin jalannya KAA, sehingga tercipta kesepakatan bersama yang dikenal sebagai Dasasila Bandung.

Keberhasilan Konferensi Asia-Afrika 1955 tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional, tetapi juga membuka jalan bagi terbentuknya solidaritas antara negara-negara berkembang. Dalam hal ini, peran Ali Sastroamidjojo sebagai penggerak menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah Konferensi Asia-Afrika.

Sosok Ali Sastroamidjojo, mengingatkan kita bahwa suatu peran tidak harus selalu tampak secara nyata. Banyak peran penting yang tidak tersorot, tetapi justru menjadi fondasi dari keberhasilan bersama.

Penulis: Fathma Mufidah Apriliani

Proofreader: Nurul Fahdilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *