
Alumni Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta kembali menorehkan prestasi di kancah internasional melalui partisipasi dalam konferensi Southeast Asian Studies Graduate Student Association (SEASGRAD) 2026 yang berlangsung pada 14–17 Mei 2026 di University of California Riverside. Konferensi akademik tahunan ke-7 tersebut diikuti oleh mahasiswa pascasarjana, peneliti, akademisi, dan panelis dari berbagai negara Asia Tenggara serta Amerika Serikat.
Salah satu alumni IIQ Jakarta, Siti Eva Zulfa, hadir sebagai presenter sekaligus visiting scholar mewakili Universitas PTIQ Jakarta. Dalam forum internasional yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 itu, ia membawakan penelitian mengenai pengalaman religius Muslim Indonesia melalui tilawah Al-Quran. Penelitian tersebut berfokus pada bagaimana masyarakat Muslim Indonesia menghayati Al-Quran tidak hanya sebagai teks, tetapi juga sebagai pengalaman spiritual yang hidup melalui suara, emosi, dan suasana kolektif.

“Saya merasa pengalaman religius Muslim Indonesia, khususnya dalam tilawah Al-Quran, masih sangat jarang dibahas di ruang akademik global,” ungkap Eva. Ia menjelaskan bahwa banyak orang lebih menitikberatkan Al-Quran sebagai teks dan makna linguistik, padahal dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tilawah juga memiliki dimensi emosional dan spiritual yang sangat kuat.
Menurutnya, seseorang dapat merasakan ketenangan, haru, merinding, bahkan mengalami kedekatan spiritual hanya karena mendengar suara tilawah Al-Quran, meskipun tidak sepenuhnya memahami bahasa Arab. Melalui penelitiannya, Eva ingin menunjukkan bahwa tilawah bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan bagian dari pengalaman keberagamaan masyarakat Muslim Indonesia yang kaya akan makna budaya dan spiritualitas.
Eva juga berpendapat, hal yang paling menarik dalam konferensi ini adalah sebagai ruang untuk “lesser told stories” yaitu cerita-cerita Asia Tenggara yang jarang dianggap penting dalam akademik arus utama. Berbeda dari forum akademik pada umumnya yang berfokus pada isu politik, konflik, ekonomi, atau pariwisata, konferensi ini justru memberi ruang bagi pengalaman sehari-hari masyarakat seperti praktik spiritual, suara, ritual, hingga pengalaman emosional. Itulah yang mendorongnya memilih tilawah Al-Quran sebagai topik penelitian.
Konferensi SEASGRAD 2026 ini menghadirkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Myanmar, Kamboja, China, hingga Amerika Serikat. Para peserta berasal dari beragam disiplin ilmu, mulai dari studi agama, sejarah, antropologi, budaya populer, musik, politik, migrasi, hingga studi gender. Forum ini bertujuan membuka ruang dialog lintas budaya dan lintas disiplin bagi para akademisi muda Asia Tenggara.

Selain Eva, alumni IIQ Jakarta lainnya adalah Choirunnisa, ia juga turut menjadi panelis dalam konferensi tersebut. Choirunnisa membawakan penelitian mengenai peran Tariq al-Syathibiyyah di Indonesia sebagai bagian dari tradisi pembelajaran Al-Quran Nusantara. Menurutnya, konferensi internasional menjadi wadah penting untuk memperkenalkan kekayaan tradisi keilmuan Islam Indonesia kepada masyarakat global.
Ia juga mengatakan bahwa mahasiswa IIQ Jakarta sudah seharusnya menyuarakan tradisi keilmuan Al-Quran Indonesia yang kaya dan mendalam. “Indonesia bukan sekadar negara Muslim terbesar saja, melainkan juga salah satu pusat peradaban Qurani yang layak diakui dunia,” ujarnya.
Keduanya berharap mahasiswa IIQ Jakarta semakin percaya diri untuk tampil di forum internasional dan aktif mengembangkan kemampuan akademik, riset, serta bahasa asing. Mereka juga menekankan pentingnya mempertahankan identitas keilmuan Islam Indonesia di tengah perkembangan akademik global. Dengan demikian, tradisi Qurani Nusantara dapat semakin dikenal, dipelajari, dan diapresiasi oleh masyarakat internasional.
Penulis: Nashwa Nadrah
Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba