Data Center AI Jatiluhur Dihentikan, Ada Apa dengan Kebutuhan Air dan Lingkungan?

INTERPRETATIVE
Source Image: Kompas.com

Pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada akhir September 2026. Penghentian tersebut dilakukan karena BDx Data Centers, sebagai pihak yang membangun proyek tersebut belum menyelesaikan sejumlah persyaratan, termasuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). (Portal Jabar, 1/10/26).

Proyek yang dikenal sebagai AI Campus 2 atau CGK4 itu mulai dibangun pada 22 September 2026. Fasilitas awal berdiri di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi dengan rencana pengembangan kawasan mencapai 11 hektare. Data center tersebut dirancang memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW), dengan kapasitas awal sekitar 120 MW dan nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. (Kompas.com, 2/10/16).

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta pembangunan dihentikan sampai seluruh persyaratan dipenuhi. “PBG dan AMDAL belum keluar. Jangan dulu berjalan proyeknya. Berhentikan dulu pembangunannya,” ujarnya yang dikutip dalam Kompas.com pada Jumat, 2/10/2026.

Ia juga meminta agar kajian mengenai dampak proyek dibuka kepada masyarakat, terutama yang berkaitan dengan penggunaan air dan potensi kebisingan. (Portal Jabar, 1/10/26).

Pemberhentian sementara ini menjadi penting jika dilihat bukan hanya dari sisi administrasi pembangunan, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan. Karena, data center AI membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar, terutama air dan listrik.

Besarnya kebutuhan air untuk operasional data center AI di Jatiluhur menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu diperhatikan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memperkirakan, ketika beroperasi pada kapasitas maksimal, data center tersebut dapat menggunakan hingga 384 liter air per detik atau sekitar 33.000 meter kubik per hari.

Dalam setahun, kebutuhan itu diperkirakan mencapai sekitar 12 juta meter kubik. Meski jumlah tersebut hanya sekitar 0,20 persen dari potensi ketersediaan air tahunan Waduk Jatiluhur, penggunaan air secara terus-menerus tetap berpotensi menambah beban ekologis. Bahkan, berdasarkan hasil hitungan proyeksi beban lingkungan WALHI, kebutuhan air tersebut sama dengan 7,87 persen kebutuhan air warga Karawang atau kebutuhan air bersih harian bagi 220.000 orang lebih. (WALHI, 1/10/26)

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi perhatian karena lokasi proyek berada sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur. Waduk tersebut memiliki fungsi penting bagi kebutuhan masyarakat dan pertanian di wilayah sekitarnya. Dedi Mulyadi juga meminta agar kebutuhan air untuk data center tidak mengurangi jatah air bagi pertanian.

Kebutuhan air bukan satu-satunya persoalan lingkungan dalam hal ini. Data center AI juga membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan perangkat komputasi dan sistem pendingin selama 24 jam.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Barat, Wahyudin, mengatakan, “Besarnya kebutuhan listrik tersebut dinilai perlu diperhatikan, termasuk dari mana sumber energi yang digunakan dan potensi emisi karbon yang dihasilkan, terutama apabila sumber listrik yang digunakan masih bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil. Selain dari itu, keberadaan genset dan cooling tower yang beroperasi terus-menerus perlu diperhitungkan dalam kajian lingkungan, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap kondisi suhu di sekitar kawasan.” (Kompas.com, 30/0926)

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah limbah. Operasional data center menghasilkan material seperti oli genset, baterai, serta limbah perangkat server yang membutuhkan pengelolaan secara tepat agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan. (Kompas.com, 30/09/26)

Kekhawatiran terhadap penggunaan air dalam pembangunan data center juga disampaikan WALHI secara nasional. Dalam siaran persnya yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026, WALHI menilai bahwa pembangunan data center AI berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sumber air apabila tidak disertai regulasi dan kajian lingkungan yang memadai. (WALHI, 1 Oktober 2026)

Persoalan serupa juga terlihat di Batam. WALHI mencatat sekitar 16-18 proyek data center telah beroperasi maupun masih dalam tahap pembangunan. Perkembangan itu berpotensi menambah tekanan terhadap Waduk Duriangkang yang menjadi sumber utama pasokan air bagi lebih dari 1,3 juta penduduk Batam. WALHI memperkirakan, kebutuhan air untuk sekitar 10 data center AI dapat mencapai 32 juta liter per hari atau sekitar 11,68 juta meter kubik per tahun, setara dengan kebutuhan air harian sekitar 320.000 penduduk. (WALHI, 1/10/26)

Kondisi di Batam ini menunjukkan persoalan yang serupa dengan Jatiluhur. Keduanya sama-sama menempatkan infrastruktur AI di sekitar sumber air yang memiliki fungsi penting bagi masyarakat. Di tengah ancaman sedimentasi waduk, perubahan iklim, dan risiko kekeringan, peningkatan kebutuhan air untuk industri berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat dan irigasi.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Wahyu Eka Styawan, Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, dalam siaran pers WALHI, bahwa perkembangan teknologi tetap harus berjalan bersama perlindungan lingkungan dan hak masyarakat atas air.

“Kasus Jatiluhur dan Batam menunjukkan pola yang sama. Infrastruktur AI dibangun di atas sumber air bersih strategis yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Jika tidak ada pengaturan yang ketat, maka masyarakat akan menjadi pihak pertama yang terdampak ketika terjadi kemarau panjang, krisis iklim atau penurunan ketersediaan air,” ujar Wahyu.

Penghentian sementara pembangunan data center AI di Jatiluhur pada akhirnya membuka persoalan yang lebih besar dari sekadar kelengkapan dokumen. AMDAL menjadi penting karena pembangunan dan pengoperasian fasilitas berskala besar perlu memperhitungkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Dalam kasus Jatiluhur, kebutuhan air, energi, dan pengelolaan limbah menjadi aspek lingkungan yang perlu diperhitungkan sebelum proyek dilanjutkan. Penghentian sementara pembangunan dapat menjadi momentum untuk memastikan data center AI tidak mengganggu ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat dan pertanian. Karena itu, kelanjutan proyek perlu didasarkan pada kajian yang terbuka mengenai dampak lingkungan dan daya dukung lingkungan.

Penulis: Nurul Fadhilah

Proofreader: Maryam Ishmah Mumtazah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *