
Himmatul Ulya sejak kecil sudah didekatkan dengan Al-Qur’an. Sosok ayah menjadi guru pertamanya, sosok yang dengan penuh kesabaran memperkenalkan huruf demi huruf, bahkan ketika usianya baru tiga tahun. Namun, belum lama kebersamaan itu, sang ayah berpulang ke Rahmatullah. Sejak saat itu, ibunya memegang erat amanah tersebut. Dengan keteguhan dan kasih yang tak pernah surut, ia mendampingi langkah-langkah kecil Himma menapaki jalan panjang menuju hafalan Al-Qur’an.
“Ayahku adalah alasan aku bertahan,” kenang Himma. “Aku tahu, hadiah terbesar yang bisa aku berikan padanya meski ia sudah tak ada adalah mewujudkan keinginannya, yaitu menjadi seorang hafizhah,” ungkapnya. Kini, setiap ayat yang terpatri dalam ingatannya bukan sekadar hafalan, melainkan wujud cinta dan kerinduan yang hidup di antara doa seorang anak dan amanah seorang ayah.
Perjalanannya tidak mudah. Sejak SD, Himma sudah mulai menyetorkan hafalan kepada ibunya. Kala itu, satu hari ia hanya mampu menambah satu hingga tiga ayat, itu pun sering harus dipanggil dan diingatkan. Namun dari kebiasaan kecil itulah tumbuh benih cinta kepada Al-Qur’an yang kelak mengantarnya menembus panggung nasional.
Enam tahun menempuh pendidikan di Pondok Al-Qur’aniyyah, Pondok Aren, Tangerang Selatan, menjadi masa pembentukan yang penting baginya. Di sanalah ia menuntaskan hafalan 30 juz pada kelas dua SMA. Namun, kualitas hafalannya semakin terasah justru ketika mengikuti berbagai ajang MTQ. “MTQ itu banyak mengubah kualitas hafalanku,” tuturnya. “Di sana hafalanku dibedah, tajwid, fashohah, dan kelancaran. Aku belajar langsung dari guru-guru ahli, dan itu sangat berharga.”
Motivasi Himma tak pernah lepas dari cinta. Cinta kepada ayah, kepada ibunya, dan kepada Al-Qur’an. Dari cinta itulah langkahnya berakar dan semangatnya tumbuh. Seiring waktu, motivasi itu semakin dalam. Ia tak lagi sekadar ingin menjadi penghafal, tetapi ingin menjadi bagian dari ahlullah, keluarga Allah, sebagaimana disebut dalam sabda Nabi.
Namun, menjadi penjaga kalam Allah bukan tanpa ujian. “Tantangan terbesarku justru diriku sendiri,” akunya. “Rasa malas, futur, bosan, dan tidak bersyukur. Lebih susah mengendalikan diri sendiri daripada lingkungan luar.” Dalam pergulatan itu, Himma belajar bahwa menjadi hafizhah bukan hanya tentang menghafal ayat demi ayat, tetapi juga tentang menjaga niat, melawan futur, dan menumbuhkan rasa syukur setiap hari.
Kesibukan kuliah dan kegiatan mengajar tidak menjadi alasan untuk berhenti. Targetnya dalam sehari adalah murojaah tiga juz. Jika waktu tidak cukup, ia mencari cara di sela aktivitas, bahkan sambil berkendara menuju kampus. “Kalau waktu tidak disiapkan untuk Al-Qur’an, waktu itu tidak akan ada,” ucapnya tegas. “Harus diniatkan dan disisihkan benar-benar untuk berdua dengan Al-Qur’an.” ungkapnya penuh semangat.
Dukungan dari orang tua, guru, dan teman-teman menjadi energi tersendiri baginya. Doa mereka, kata Hima, adalah bahan bakar utama setiap kali semangatnya menurun.
Tahun ini, langkahnya di ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional di Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi babak baru. Setelah sebelumnya meraih juara 2 nasional cabang 10 juz, ia naik ke cabang 20 juz, tantangan yang jauh lebih berat. “Tahun ini paling luar biasa,” ujarnya sambil tersenyum. “Aku sempat merasa tidak cukup baik karena posisiku belum pasti. Kami berdua dipanggil pembinaan, tapi hanya satu yang akan tampil di nasional. Rasanya campur aduk, capek, dan sempat down.” ungkapnya.
Namun titik baliknya terjadi saat ia belajar melepaskan. “Aku ubah mindsetku. Aku bukan bersaing dengan rekan satu tim yang juga dipanggil pembinaan, tapi dengan diriku sendiri kemarin. Aku cuma ingin jadi lebih baik dari versi aku yang dulu.”
Tiga hari sebelum keberangkatan, kabar itu datang, nama Himma yang terpilih untuk tampil di tingkat nasional. Dengan penuh syukur, ia menyiapkan diri sebaik mungkin, menjaga kesehatan dan hati. Hasilnya: Juara 3 Nasional cabang 20 juz. “Kalau bukan karena pertolongan Allah, aku gak akan bisa,” ucapnya haru. “Tahun ini paling menguji mental dan kesabaranku, sekaligus paling mengajarkan arti ikhlas.” Tuturnya.
Baginya, keberhasilan menjaga hafalan dan tampil di musabaqah bukan hanya soal kemampuan, tetapi tentang istiqamah dan keikhlasan. “Menjaga hafalan itu ranah ikhtiar kita, tapi ketika sudah di panggung nasional, itu ranah tawakkal,” katanya, mengutip pesan gurunya. “Di sana bukan soal siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling ikhlas dan paling kuat doanya.”
Di akhir wawancara, Himmatul Ulya menitipkan sebuah pesan, “Menjadi penjaga kalam Allah itu amanah yang lembut tapi dalam. Hafalan itu seperti tanaman, kalau tidak disiram setiap hari dengan murojaah, ia akan layu. Allah tidak menilai seberapa cepat kita menghafal, tapi seberapa tulus kita menjaga hubungan dengan Al-Qur’an. Kalau lelah, istirahatlah sebentar, tapi jangan berhenti. Karena menjaga Al-Qur’an bukan tentang kesempurnaan, melainkan kesetiaan.” Dari kata-katanya terpancar ketenangan seorang penjaga kalam Ilahi yang terus berjuang menjaga cinta yang telah diwariskan ayahnya, cinta kepada Al-Qur’an.
Penulis: Sufa Alwafiah Jamyza
Proofeader: Ayfia Amireyl Firothy