Maryam Ishmah Mumtazah: Menulis, Dakwah, dan Jejak Kata yang Abadi

Kabar IIQ

Di balik lembar-lembar buku antologi, hadir sosok Maryam Ishmah Mumtazah, mahasiswa IIQ Jakarta yang akrab disapa Ishma. Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester tiga ini tidak hanya tekun menimba ilmu di bangku kuliah, tetapi juga konsisten menyalurkan gagasan lewat tulisan. Dengan pena dan kertas yang selalu menemaninya, ia terus menulis dan berbagi kisah di berbagai platform kepenulisan.

Kecintaan Ishma pada dunia literasi tumbuh sejak dini, berawal dari budaya membaca yang mengakar dalam keluarganya. Sejak kecil ia akrab dengan buku, mulai dari menulis catatan harian saat TK hingga berkembang menorehkan cerpen, puisi, dan esai. “Saya ingin tulisan saya bisa dinikmati orang lain dan menebarkan manfaat, sebagaimana yang dilakukan ulama-ulama terdahulu,” ungkapnya. Perjalanan kepenulisannya kian serius ketika duduk di MTsN 3 Jombang, saat cerpennya untuk pertama kali dibukukan melalui sebuah pelatihan menulis. Pandemi COVID-19 kemudian menjadi titik balik penting di saat banyak orang terhenti aktivitasnya, Ishma justru memanfaatkannya untuk aktif mengikuti lomba menulis daring. Dari situ, karyanya terhimpun dalam 14 antologi lintas genre. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah buku Sweet as Candy, karena untuk pertama kalinya namanya terpampang di sampul depan sebagai penulis utama.“

Bangga sekali. Meski hanya antologi, tapi dari sanalah saya yakin langkah menuju nama saya terpajang di rak buku best seller akan dimulai,” ucapnya penuh semangat.

Meski terlihat mulus, perjalanan itu tak lepas dari rasa jenuh. Ada kalanya ia kehabisan ide dan bingung menyelesaikan naskah. Namun, setiap kali itu terjadi, ia memilih berhenti sejenak, mengingat kembali tujuan awal menulis, lalu mencari inspirasi melalui diskusi bersama orang-orang terdekat.

Tak bisa dipungkiri, keluarga menjadi pendorong terbesar dalam perjalanannya. Kedua orang tua selalu mendukung. Dari merekalah Ishma mendapat energi untuk terus berkarya.

Kini, berbekal ilmu yang ia peroleh di IIQ Jakarta, kualitas tulisan Ishma semakin matang. “Sedikit banyak, bertambahnya ilmu dari kuliah dan kajian Qur’an berpengaruh terhadap bobot tulisan saya,” ujarnya. Baginya, menulis adalah media dakwah Qur’ani, sebuah jalan untuk menyampaikan pesan tanpa harus selalu berbentuk ceramah atau kutipan ayat secara gamblang. Nilai-nilai Al-Qur’an, menurutnya, bisa dihadirkan dengan halus melalui cerita ringan yang tetap sarat makna.

Ishma menegaskan, menulis baginya bukan sekadar hobi, tapi panggilan jiwa sekaligus dakwah. Ia berharap mahasiswa IIQ dapat menguatkan tradisi literasi, tidak hanya sebatas menulis makalah perkuliahan, tetapi juga menghasilkan karya yang bisa diakses publik.

Untuk teman-teman yang masih ragu menulis, ia berpesan sederhana, “Tulislah, apa saja. Satu kalimat pun tak mengapa. Kamu tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mencoba. Karena yang jago menulis bukan soal bakat, tapi soal seberapa sering ia berlatih.” ujarnya dengan tegas.

Ke depan, Ishma bercita-cita menerbitkan buku solo sebagai tonggak baru dalam perjalanan kepenulisannya. Ia ingin karyanya tak lagi berhenti di antologi, tetapi hadir sebagai sebuah karya utuh yang sepenuhnya mencerminkan pemikirannya. “Mulailah menulis, sekecil apa pun. Dari kata-kata sederhana akan menjelma jejak yang terekam sepanjang masa dan menjadi amal jariyah,” pungkasnya penuh harap.

Perjalanan Ishma membuktikan bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan pengabdian dan dakwah yang bisa terus hidup melampaui usia penulisnya. Dengan semangat belajar dan konsistensi berkarya, ia menapaki jejak para ulama yang menebarkan ilmu melalui tulisan. Di tengah derasnya arus digital, kehadiran sosok muda seperti Ishma menjadi pengingat bahwa kata-kata masih punya kuasa besar: menginspirasi, menggerakkan, dan meninggalkan warisan yang abadi.

Penulis: Sufa Alwafiah Jamyza Proofreader: Ayfia Amireyl Fitrothy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *