Webinar Public Speaking, Tubagus Wahyudi: “Wajah Kita Itu Akhlak”

DISKUSI DAN KAJIAN KABAR IIQ

Seorang penghafal Al-Qur’an seharusnya memiliki self confidence yang tinggi, karena mereka menghafal Al-Qur’an yang merupakan pedoman umat Islam serta tidak ada keraguan di dalamnya, kata Tubagus Wahyudi, Founder KAHFI BBC Motivator School, dalam Webinar Public Speaking bertemakan Improve Self-Confidence to be a Good Public Speaker, Selasa (10/8/2021).

Webinar yang diselenggarakan merupakan hasil kolaborasi antara Dema IIQ dan Dema FUD (Fakultas Ushuluddin dan Dakwah). Shofwah selaku Presiden Dema IIQ berharap, acara tersebut dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, serta kepercayaan diri mahasiswa ketika berhadapan langsung dengan masyarakat. Webinar ini dihadiri oleh 220 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa sivitas akademik. Menghadirkan pembicara Tubagus Wahyudi seorang Motivator Komunikasi, dan dimoderatori oleh Megawati Oktasari Presiden Dema FUD IIQ.

Ada beberapa kiat-kiat yang disampaikan oleh Tubagus Wahyudi atau kerap disapa Om Bagus dalam webinar tersebut. Diantaranya yang pertama, seorang public speaker yang baik harus mulai melakukan intrapersonal communication terhadap bunyi suara. Seseorang yang berbicara dengan suara pelan, tidak akan disukai oleh mereka yang bersemangat, sebaliknya orang yang overconfidence dan berbicara dengan menggebu-gebu, tidak akan disukai oleh mereka yang berbicara lambat.

Kedua, seorang public speaker harus selalu menampakkan wajah yang menyenangkan. Bagus menekankan bahwa manusia tidak akan mampu meningkatkan rasa percaya dirinya jika ia selalu memasang wajah yang masam.

“Wajah kita itu paling penting, karena wajah kita itu akhlak. Kita tidak butuh wajah cantik, tetapi butuh wajah yang menyenangkan”, pungkas Bagus.

Selanjutnya Bagus mengungkapkan, bahwa Rasulullah SAW adalah seorang public speaker yang paling handal. Hal demikian terlihat dari indikasi yang Rasulullah tunjukkan ketika ia berbicara dengan musuhnya, seketika mereka takjub akan pembicaraan Rasul.  

Berbeda dari kebanyakan orang, Bagus meyakini bahwa nervous atau grogi ketika akan berbicara di hadapan orang banyak, tidak perlu dihilangkan.

“Nervous jangan dihilangkan. Inilah kesalahan kita mengaji psikologi. Padahal nervous adalah karunia Allah, itu adalah sinyal dari Allah. Kenapa Allah memberikan manusia sikap tersebut, karena manusia kerap kali membicarakan sesuatu yang belum ia kuasai. Kalau seseorang sudah menguasai ia tidak akan merasa nervous. Kedua, sikap nervous timbul karena kita pertama kali menghadapi orang baru. Ketiga, karena nervous adalah pagar bahwa kita perlu berhati-hati dalam berbicara. Jika nervous datang seharusnya manusia bersyukur, dengan berbaik sangka kepada Allah, seketika detak jantung kita akan kembali normal dan nervous pun hilang”, ujar Bagus.

Selain itu, Bagus menyampaikan bahwa seorang public speaker harus berwawasan luas, karena manusia merupakan makhluk sosial yang melihat orang lain dari cara berbicaranya, dan manusia menyukai pembicaraan yang indah. Seseorang yang berwawasan luas mampu membuat audience terkesima dengan pembicaraannya, karena merasa mendapatkan banyak hal yang mereka butuhkan. Seorang public speaker juga harus mampu menguasai banyak cerita, ataupun sejarah, agar pembicaraan yang terbentuk terkesan asik dan tidak membosankan, karena di era sekarang kebutuhan akan hiburan sangat tinggi.

Sebagai inti materi, Bagus membagikan beberapa cara untuk mempersiapkan diri menjadi seorang public speaker. Yang pertama, memperbanyak data dari mulai ilmu, pengetahuan, wawasan, dan pengalaman, karena menurutnya berbicara adalah membunyikan pikiran, maka dari itu data menjadi penting bagi seorang pembicara yang baik.

Kedua, berpikir dengan cara yang tepat. Dalam poin ini Bagus mengumpamakan seperti memasak. Bagaimana caranya membuat masakan yang diinginkan jika bahannya pun tidak sesuai, bagaimana caranya mengutarakan pembicaraan yang diinginkan jika cara berpikirnya tidak tepat.

Ketiga, memahami sifat berpikir. Seorang public speaker harus mampu mempertahankan sifat berpikir yang positif, agar apa yang ia utarakan hasilnya akan baik. Keempat, kecepatan berpikir. Kelima, pengalaman berpikir, dan terakhir kreatifitas.

Penulis: Liana Nur Arifatul Inayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *