Lembaga Penelitian dan Pengkajian Ilmiah (LPPI) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta mengadakan kegiatan “Kajian Online Ramadhan (KORMA) 1443 H” guna memeriahkan bulan suci Ramadhan sekaligus “Peringatan Milad Ke-45 Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta” pada Selasa (07/04/22).
Kegiatan ini diadakan secara daring melalui aplikasi zoom clouds meeting dan tidak hanya dihadiri oleh civitas akademika Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, melainkan dihadiri pula oleh civitas akademika lembaga lain serta khalayak umum, dengan jumlah partisipan mencapai 186 orang.
Acara diawali dengan pembacaan khataman Al-Qur’an oleh seluruh partisipan yang hadir, dipimpin oleh Ibu Ade Halimah, S.Th.I., dimulai dari QS. Al-Humazah sampai QS. An-Nas, kemudian dilanjut dengan membaca QS. Al-Fatihah dan ayat-ayat pilihan. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa khatmul qur’an oleh Dr. KH. Ahmad Fathoni, LC., MA., dan disambung dengan pembukaan dan sambutan oleh Dr. Hj. Nadjematul Faizah, SH., M.Hum., selaku Pjs Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.
Melalui sambutannya, Pjs Rektor mengucapkan rasa syukur atas 45 tahun berdirinya IIQ Jakarta. Beliau menuturkan bahwa berdirinya IIQ Jakarta hingga saat ini tidak luput dari kerjasama para tim civitas akademika IIQ. Beliau juga berharap dengan diadakannya kegiatan yang diselenggarakan oleh LPPI IIQ ini dapat menjadi salah satu upaya tercapainya visi misi IIQ Jakarta. Beliau pun berharap seluruh civitas akademika IIQ senantiasa konsisten dan berpegang teguh menjalani apa yang telah dipesankan para pendahulu IIQ Jakarta, serta selalu istiqamah dalam tujuannya menjadi kampus Al-Qur’an.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D. sebagai narasumber Kajian Online Ramadhan (KORMA) dengan tema “Kontroversi Kajian Tafsir dengan Perspektif Sains” yang dimoderatori oleh Bapak Dr. Muhammad Azizan Fitriana, MA.
Nadirsyah Hosen menyampaikan bahwa terkait kontroversi kajian tafsir dengan perspektif sains, ada tiga golongan yang berbeda pendapat mengenai hal ini, yaitu pertama, golongan yang menolak sains dan mengabaikan ilmu pengetahuan, mereka hanya terfokus pada apa yang dinyatakan oleh Al-Qur’an. Kedua, golongan yang menyerukan pengislamisasian sains, namun tanpa mengupayakannya dengan penelitian. Mereka cenderung mengandalkan hasil-hasil penelitian orang Barat, kemudian mengklaim bahwa Al-Qur’an telah lebih dahulu membahasnya tanpa mengetahui kevalidan hasil penelitian orang-orang Barat tersebut. Ketiga, golongan penengah di antara dua pendapat sebelumnya. Mereka menyatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis telah memberi isyarat-isyarat yang kemudian ramai ditafsirkan oleh para mufassir dan dapat dibuktikan dengan bukti empiris. Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an dan hadis itu hanyalah pemberi informasi, bukan konfirmasi. Maka, hendaknya kita menggunakan kemampuan yang kita miliki untuk melakukan upaya-upaya penelitian terhadap isyarat-isyarat yang terdapat di dalam Al-Qur’an tersebut.
Nadirsyah Hosen juga menuturkan bahwa tidak semua hal-hal tentang agama dapat dikaitkan dengan sains, dan begitupula sebaliknya. Di akhir penyampaiannya, beliau mengutip pesan dari Quraish Shihab dari Muhammad Arhum bahwa dalam menafsirkan Al-Qur’an, tetaplah rendah hati.
“Mari dekati Al-Qur’an dengan kerendahan hati dan jangan berbangga dengan ilmu yang telah kita miliki. Niscaya, kita akan terkejut sebab ternyata masih banyak ilmu dan informasi yang belum kita ketahui dan kita gali dari Al-Qur’an,” tutur beliau.
Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Abdul Halim Sholeh. Dengan diadakannya kegiatan ini, semoga dapat memperluas wawasan kita mengenai tema yang dibahas dan dapat menambah kecintaan kita terhadap Al-Qur’an al-Karim.
Penulis: Shofi Nurul Izzati