Memperingati Hari Laut Sedunia: Budaya Menyayangi dan Menghargai Kerja Keras Laut

HARI BESAR OPINI

Sobat LPM! kalian tahu enggak kalau hari ini merupakan peringatan hari laut sedunia? Si pemilik biru dengan cahayanya yang berkilau, tentram dan damai, sumber kehidupan bagi mahluk luar dan dalam laut bumi, serta wujud dari paru-paru planet bumi ini! Begitulah interpretasi penulis ketika menyorot sebuah laut.

Perayaan Hari Laut Sedunia atau World Oceans Day diperingati setiap tanggal 8 Juni. Yup, it’s a day for the sea! Ketetapan peringatan hari laut tersebut terhitung mulai Desember 2008 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas pengajuan delegasi Kanada dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992. Wah, kalau diperhatikan selisihnya cukup jauh ya untuk sampai disahkan oleh pihak PBB dan menginfokan secara luas di kancah internasional.

Meski demikian, PBB telah memusatkan perhatiannya dengan pengesahan tersebut serta ikut andil dan aktif dalam penyusunan hari peringatan laut sedunia yang juga diikuti oleh UNESCO. Eh tapi, jauh-jauh ngomongin Kanada, PBB dan UNESCO, sebenernya kalian tahu enggak sih kenapa sampai ada hari laut sedunia?


Begini, laut itu merupakan isi planet bumi yang sangat vital bagi kehidupan. Di dalamnya, sistem yang bergerak dalam ekosistem sangat berperan bagi mahluk hidup, bahkan sistem bekerjanya alam semesta ini. Singkatnya, pernah denger nggak kalau bumi akan mati tanpa air? Nah, kira-kira seperti itu gambaran pentingnya urgensi dari keberadaan laut di tengah-tengah kehidupan kita.

Berangkat dari hal inilah maka diperlukan adanya Hari Laut Sedunia untuk mencapai pada pemahaman tersebut, bahwa kita harus menyadari peran laut dan berupaya dalam merawat laut. Penulis menguatkan hal tersebut dengan menganalogikan bahwa hampir segala sesuatu itu tidak terlepas dari hak dan kewajiban. Laut berserta isinya merupakan hak yang Tuhan berikan untuk mahluk khususnya manusia untuk menghidupi dirinya. Laut tidak hanya sebagai sistem pengelolaan semesta seperti sebagai sumber turunnya air hujan, yang mana ia akan mengatur bagaimana agar bumi tidak mengalami kekeringan karena memproduksi air sekitar 97% untuk bumi.

Alam biru ini juga memiliki nilai secara finansial. Mulai dari jalur transportasi, hingga hewan laut yang dapat dikonsumsi dan diperjual belikan. Melihat hak sekaligus manfaat yang kita dapatkan dari hamparan samudera ini, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga kehidupan di laut. Entah karena agar selalu mendapat untung dari laut, ataukah sebagai wujud manusia yang dapat berpikir dan bersyukur atas fasilitas juga komposisi penting dalam kehidupan yang terkumpul dalam laut ini.

Namun, yang menjadi tingkat problematikanya adalah pencemaran laut atas ulah manusia. Salah satunya seperti pengeboman di dasar laut untuk penangkapan ikan secara brutal, juga hasil dari penumpukan sampah. Hal ini memang persis digambarkan dalam Al-Baqarah [2] : 11 yang menyebut pelaku kerusakan ini sebagai, ‘al-Mufsiduuna fil Ardh’,  yakni orang-orang yang membuat kerusakan di bumi.

Hal ini pula yang mendasari para malaikat sempat meragukan manusia sebagai khalifah di bumi. Namun, tanggapan Allah justru tidak pesimis seperti demikian. Justru, Allah menganugerahkan manusia dengan unsur akalnya. Dengan demikian, sudah semestinya akal kita akan me-menage hal-hal yang menjadi hak dan kewajiban di atas, mempergunakan sumber daya alam dengan standar batas kebutuhan, dan merawat serta menjaga kelestarian laut. Di antaranya yakni dengan tidak membebani bumi dengan banyak sampah yang sulit lunak juga meminimalisir tingkat polusi.

Nah, dari yang sudah dijelaskan panjang lebar, semoga bisa bermanfaat dan segera bergerak, Sobat LPM!

Penulis: Hamidah Nurroh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *