Suara Dibalik Bayangan: Akun Anonim yang Menguak Sisi Kelam SMAN 4 Kota Serang

INTERPRETATIVE

Di balik keberanian akun anonim @savesmanfourkotser yang mengguncang publik, tersembunyi sosok atau mungkin banyak sosok yang menulis dengan tangan gemetar danmengunggah dengan rasa takut. Mereka melawan ketidakadilan sambil terus menatap kebelakang, karena mereka tahu: sewaktu- waktu bisa diseret, dihilangkan, bahkan dikorbankan.

Akun ini muncul di Instagam sebagai bentuk perlawanan diam yang akhirnya bersuara. Dengan keberaniannya, mereka mengungkapkan sisi kelam SMAN 4 Kota Serang, sebuahinstitusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk bertumbuh, justru berubah menjadi ruang gelap yang penuh tekanan.

“Sudah cukup suara-suara dipaksa diam, sudah terlalu lama siswa dipaksa tunduk oleh sistembusuk, yang berlindung dibalik label “pendidikan”. Dan sekarang lah waktunya membukasuara,” tulis akun tersebut dalam salah satu unggahannya.

Dengan nama yang disembunyikan, wajah yang disamarkan, tapi hati yang hancur tiap kali kebenaran diinjak-injak di depan mata, mereka tetap tegar bersuara. Bukan karena tak punyarasa takut, tapi karena dunia perlu tahu, bahwa mereka sudah muak terus diam – dipaksamewajari hal-hal yang sebenarnya tak wajar.

Bagaimana jadinya jika sosok guru yang semestinya menjadi pendidik, pelindung, danpanutan, justru menjadi pelaku pelecehan terhadap siswanya sendiri? Lebih tragis lagi, ketikasekolah yang seharusnya menciptakan ruang aman bagi proses tumbuh kembang anak, malahmelindungi pelaku pelecehan tersebut? Itulah yang terjadi di SMAN 4 Kota Serang.

Dilansir dari banpos.co, mantan kepala sekolah SMAN 4 Kota Serang, Ade Suparman, angkat bicara terkai isu ini, ia mengakui adanya kasus pelecehan yang dilakukan oleh seorangguru laki-laki terhadap siswi perempuan. Ia menjelaskan bahwa kasus tersebut sudah lama “diselesaikan secara kekeluargaan” dan kedua belah pihak pun sudah berdamai.

Namun respon kepala sekolah tersebut justru menyulut kemarahan publik, khususnyawarganet. Bagaimana bisa pelecehan seksual terhadap anak bisa dianggap selesai hanyadengan “perdamaian”? Lantas di mana posisi keadilan bagi korban? Bagaimana dengan lukapsikologis yang tak terlihat namun sulit untuk disembuhkan? Apakah benar sebuahperdamaian cukup untuk memberi efek jera? Dan yang lebih penting lagi, apakah itu dapatmenjamin si pelaku tidak akan mengulanginya pada korban lain?

Kejadian ini bukanlah kasus tunggal. Dari angkatan ke angkatan, hingga alumni, banyak yang mengeluhkan pengalaman dan keresahan yang sama, dan semua tertuju pada satu nama yang sama. Dengan banyaknya pengakuan dari saksi dan korban ini, munculah satu pertanyaanbesar: mengapa oknum yang sudah berulang kali disebut melakukan perbuatan keji tersebut, hingga kini masih dibiarkan mengajar?

Apakah karena demi menjaga “citra baik” sekolah? Di balik diamnya institusi, ada banyaksuara yang dipaksa redup. Saat mereka mencoba bersuara untuk meminta keadilan, merekadiancam, dipanggil ke ruangan, dan dipaksa untuk bungkam.

Padahal rusaknya nama baik sekolah bukanlah karena mereka yang bersuara, melainkanmereka yang menutup mata dan membungkam kebenaran.

Tidak hanya kasus pelecehan seksual, akun tersebut juga mengungkap dugaan adanyapungutan liar dan bisnis dalam sekolah, ekstrakulikuler yang semestinya menjadi wadahpengembangan bakat dibiarkan mati tanpa dana, intoleransi dengan keberagaman agama, ruang kelas yang tidak memadai, hingga adanya eksploitasi guru honorer. 

Tudingan-tudingan tersebut di tanggapi oleh pihak sekolah. Dikutip dari Banten.viva, pihaksekolah menegaskan semua tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar, dan mereka telahmengambil langkah tegas dan transparan. Untuk kasus pelecehan seksual pun sekolah telahmelapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Kepegawaian Daerah ProvinsiBanten untuk dapat ditindak lanjuti.

Mengambil pelajaran dari isu tersebut, @Savesmanfourkotser bukan sekadar akun anonim. Iaadalah cermin dari keresahan yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh banyak siswa, danmungkin oleh banyak sekolah lainnya. Ketika institusi tak lagi mampu melindungi, ketikasistem hanya menjaga citra dan bukan kebenaran, maka suara-suara seperti ini harus terusmuncul, bahkan dari balik ketakutan.

Kini, publik tidak lagi bisa menutup mata. Kebenaran meski datang dari akun tanpa nama, tetaplah kebenaran. Pertanyaannya bukan lagi apakah sekolah ini bersalah atau tidak, melainkan: mengapa suara korban selalu terlambat didengar? Mengapa harus menunggusebuah akun viral agar keadilan mulai dibicarakan?

Perlu kita pahami, perubahan tidak akan datang jika suara terus dibungkam, jika pelanggaran dibalut dengan “perdamaian”, dan jika citra lebih penting dari nurani. Pendidikan seharusnyamenjadi ruang yang membebaskan, bukan menekan.

Penulis: Aisyah Humaira

Proofreader: Anisa Aulia Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *