
“Orang mengira saya gila.” Begitulah Khoirul Anwar mengenang respons sejumlah pakar ketika ia memaparkan gagasannya tentang penggunaan dua proses Fast Fourier Transform (FFT) di Hokkaido, Jepang, pada 2005.
Meski mendapat respons skeptis, Khoirul tidak lantas mengurungkan niatnya untuk melanjutkan penelitian. Seiring waktu, risetnya turut berkontribusi dalam perkembangan teknologi komunikasi 4G Long Term Evolution (LTE) (detikINET).
Lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 1978, Khoirul Anwar telah menunjukkan ketertarikannya pada ilmu pengetahuan sejak kecil. Ia gemar membaca buku-buku sains, sebuah minat yang kelak mengantarkannya menekuni dunia penelitian. Ia membaca pemikiran ilmuwan seperti Albert Einstein dan Michael Faraday, bahkan bercita-cita menciptakan teori baru. Ketertarikan tersebut tumbuh di tengah kehidupan keluarga yang sederhana.
Pada 1990, Khoirul harus kehilangan sosok ayah. Saat duduk di bangku SMA, ia berusaha menghemat pengeluaran agar tidak membebani ibunya. Bahkan, kebutuhan makannya pun ia pangkas.
Khoirul kemudian menempuh pendidikan Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 2000 dengan predikat cum laude. Ia memperoleh beasiswa Panasonic untuk melanjutkan studi di Jepang. Perjalanannya tidak sepenuhnya mulus. Ia gagal masuk universitas yang diincarnya di Tokyo dan tidak lulus ujian bahasa Jepang. Ia akhirnya melanjutkan pendidikan di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), meraih gelar magister pada 2005 dan doktor pada 2008 (detikINET).
Salah satu penelitian yang mengantarkan namanya dikenal berkaitan dengan konsep penggunaan dua Fast Fourier Transform (FFT), metode matematis untuk mengolah sinyal. Menariknya, inspirasi untuk memahami persoalan pengolahan sinyal itu juga ia kaitkan dengan serial anime Dragon Ball Z. Ia membayangkan teknik Goku mengumpulkan energi sebagai analogi untuk menggabungkan energi sinyal dalam sistem komunikasi. Tentu, analogi tersebut bukan pengganti pembuktian ilmiah. Gagasannya tetap dikembangkan melalui perhitungan dan penelitian (Liputan6).
Pada 2005, Khoirul mempresentasikan gagasannya di Hokkaido, Jepang. Penelitiannya berangkat dari persoalan efisiensi dalam sistem komunikasi nirkabel, terutama terkait penggunaan cyclic prefix, yaitu bagian tambahan pada sinyal yang berfungsi membantu mengatasi gangguan antarsimbol (inter-symbol interference). Penggunaan bagian tambahan tersebut dapat mengurangi efisiensi transmisi. Khoirul kemudian mengembangkan pendekatan dengan dua FFT untuk mengatasi persoalan itu. Namun, gagasannya tidak langsung diterima. Sejumlah pakar meragukan pendekatan tersebut karena dinilai tidak sesuai dengan pemahaman yang berkembang saat itu. Meski demikian, ia tetap mengembangkan gagasannya melalui perhitungan matematis dan penelitian (Liputan6).
Perjalanan riset tersebut berlanjut hingga gagasan Khoirul mendapat pengakuan di bidang telekomunikasi. Teknik dua FFT yang dikembangkannya berkontribusi pada pengembangan sistem komunikasi 4G LTE dan tercatat dalam standar telekomunikasi internasional (detikINET). Kontribusi ini menunjukkan bahwa gagasan alternatif perlu diuji melalui penelitian agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Meski demikian, perkembangan 4G LTE merupakan hasil kerja banyak peneliti, bukan kontribusi satu orang saja.
Gagasan yang sempat diragukan tidak membuat Khoirul Anwar berhenti melangkah. Ia terus menekuni penelitian, melewati proses panjang yang tak selalu mudah. Dari perjalanannya, satu hal menjadi jelas: sebuah gagasan layak diuji melalui penelitian, bukan dihentikan hanya karena dianggap “berbeda” (telkomuniversity.ac.id).
Penulis: Suci Sutiani
Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba