
Awalnya, Ratu Aisyah tidak pernah menyangka bahwa tangannya akan membawa manfaat besar bagi banyak orang. Mahasiswi IIQ Jakarta asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini mulai terbiasa mengurut sejak lama. Ayahnya yang sering mengalami kecelakaan membuat tubuhnya kerap harus dipijat, dan ibunya meminta Aisyah membantu. Hampir dua tahun lamanya ia rutin mengurut sang ayah hingga tangannya makin terlatih.
Agustus 2024 menjadi titik balik. Berawal dari rasa simpati kepada seorang teman yang jatuh, Aisyah teringat kisah tragis di lingkungannya: adik dari teman tantenya yang wafat karena menolak diurut setelah jatuh. Luka kecil itu menjalar, berujung amputasi, dan akhirnya merenggut nyawa. Sejak saat itu, ia semakin yakin bahwa pijat bukan sekadar keterampilan, tapi bisa menyelamatkan nyawa.

Padahal, awalnya keluarga sempat melarang. Menurut kepercayaan, tukang urut bisa ikut terkena efek sakit dari pasien. Namun, Aisyah meyakini bahwa jika yang diurut adalah mahasiswi penghafal Al-Qur’an, apa yang ia lakukan insyaAllah aman dan penuh keberkahan. Dengan modal sederhana berupa pamflet buatan sendiri yang ia sebarkan lewat grup WhatsApp laundry, grup penghubung seluruh mahasantri IIQ, namanya pun mulai dikenal.
Awalnya hanya teman-teman sesama santri yang meminta bantuan. Namun, dari mulut ke mulut, lingkaran kliennya meluas: ibu kantin, pengurus pesantren, instruktur tahfizh, bahkan dosen pun pernah bertanya jasa pijatnya, meski belum sempat bertemu karena kesibukan. “Pijatanku bukan asal tempel. Ada titik-titik yang harus disentuh, dan pasien merasakan sendiri bedanya,” ujarnya.
Pasien Aisyah datang dengan keluhan yang beragam. Ada yang kakinya bengkak hingga sulit berjalan, bahkan hanya bisa tertatih-tatih. Sebagian lain harus menjalani terapi berkala karena komplikasi penyakit, ada yang keseleo, terpeleset, hingga mengalami cedera besar akibat kecelakaan lama. Ada pula yang datang dengan luka baru yang tampak sepele, tapi tetap membuat aktivitas terganggu. Melihat mereka perlahan pulih dan kembali bisa beraktivitas normal, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Aisyah. Baginya, setiap sentuhan yang memberi manfaat adalah bentuk kecil dari pengabdian.
Meski begitu, Aisyah tidak asal menerima panggilan. Ada pantangan yang ia pegang teguh: tidak boleh mengurut pada hari Selasa dan Sabtu. Pesan ini ia dapat dari tantenya, Selasa ia percayai sebagai hari tolak bala, sedangkan Sabtu adalah hari raya ibadah orang Yahudi. Selain itu, ia selalu memastikan dirinya dalam keadaan fit sebelum memijat. Hal ini adalah amanah dari almarhumah ibunya. “Kalau badan kita lagi lemah, energi bisa turut terambil. Malah ikut sakit,” jelasnya.
Kesibukannya sebagai mahasiswi aktif membuat Aisyah sering menjadikan kamar hanya sebagai tempat singgah sebentar. “Kadang cuma sempat pulang, ganti baju, tidur sebentar, lalu pergi lagi,” kenangnya. Bahkan, saat awal membuka jasa urut, tubuhnya sempat drop karena terlalu banyak pasien, hingga jatuh sakit. Namun, dari pengalaman itu ia belajar mengatur tenaga dan waktu.
Lebih dari sekadar rutinitas, pijat menjadi jalan hidup Aisyah. Ia sering mendengar cerita-cerita yang selama ini tak tersampaikan pada orang tua pasien. Ada yang malu, ada yang takut, ada yang menyimpan sakitnya sendiri. Aisyah hadir bukan hanya sebagai tukang urut, tapi juga sebagai teman yang bisa dipercaya menjaga rahasia. “Privacy pasien itu aman sama aku,” katanya.
Di balik semua itu, ada alasan lain yang membuatnya tekun: ekonomi. Sejak ibunya tiada dan ayahnya menua, Aisyah mulai jarang mendapat kiriman dari rumah. Ia berusaha mencari beasiswa, meski nilainya tidak selalu mencukupi. Dari hasil urut, ia bisa menutup kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan uang yang ia terima sering ia putar kembali, membeli buah-buahan, obat-obatan dikala kurang fit. “Yang penting bisa bermanfaat, uangnya aku putar lagi, untuk vitamin sendiri,” tuturnya.
Aisyah juga tidak kaku soal tarif. Awalnya ia mematok Rp50.000 sebagai ajang promosi, lalu naik menjadi Rp100.000 sesuai standar. Tapi kadang ia luluh melihat pasien yang kesulitan. “Yang penting sembuh, doain aja aku. Siapa tahu doa itu jadi jalan masuk surga,” ucapnya sambil tersenyum.
Kini, nama Ratu Aisyah bukan hanya dikenal di lingkungan pesantren Takhasus IIQ Jakarta, tetapi juga di luar. Dari tangan sederhana seorang mahasiswi, ia membuktikan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman bisa membuka jalan kebermanfaatan yang lebih luas. Pesannya sederhana:
“Jangan terjebak di zona nyaman. Banyak orang pintar yang akhirnya stuck karena nggak berani mencoba hal baru. Apalagi Gen Z, sebenarnya kreatif banget. Kalau sudah fokus sama satu skill, itu bisa jadi peluang sukses.”
Penulis : Sufa Alwafiah Jamyza
Proofreader : Aisya Humaira