
Setiap 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Namun dibalik gema upacara dan baliho bertema nasionalisme, ada sisi dari sejarah ini yang perlu kita ingat lagi bahwa pertempuran Surabaya 1945 bukan hanya kisah militer, melainkan kisah rakyat Indonesia yang menolak tunduk pada penjajahan.
Dalam peristiwa itu, para pejuang bukan hanya tentara, melainkan juga santri, pedagang, buruh, dan pemuda kampung. Mereka bertempur bersama dengan keyakinan bahwa kemerdekaan harus dipertahankan meski tanpa senjata lengkap. Sejarawan memperkirakan sekitar 6.300 hingga 15.000 pejuang Indonesia gugur, dan sekitar 200.000 warga sipil mengungsi dari kota Surabaya selama dan setelah pertempuran (Battle of Surabaya, Wikipedia; The Jakarta Post, 2013). Pertempuran ini menegaskan bahwa kepahlawanan sejati tumbuh dari keberanian rakyat Indonesia.
Penetapan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan sendiri baru dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, sebagai bentuk penghormatan resmi terhadap semangat juang rakyat Surabaya. Artinya, pengakuan itu lahir dari kesadaran kolektif bangsa bahwa pahlawan tidak hanya mereka yang memegang senjata, tetapi juga rakyat yang berani mempertahankan kedaulatan dengan segala keterbatasan.
Kini, ketika generasi muda menjadi bagian terbesar dari populasi Indonesia yakni sekitar 64,9 juta jiwa atau 23,9 persen dari total penduduk (BPS, Statistik Pemuda Indonesia 2024), pertanyaannya bukan lagi siapa pahlawan masa lalu, melainkan bagaimana kita menjadi pahlawan masa kini. Kepahlawanan hari ini tak lagi identik dengan pertempuran fisik, tetapi dengan keberanian moral, integritas, dan kontribusi nyata dalam membangun bangsa.
Sutan Sjahrir berpesan dalam Perdjuangan Kita (1945), “Kemerdekaan hanyalah jembatan emas. Di seberang jembatan itu kita akan membangun masyarakat yang adil dan makmur.” Kalimat ini mengingatkan bahwa perjuangan tidak berhenti di tanggal 10 November, karena kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk mengisi dan menjaga makna kemerdekaan itu sendiri.
Maka, Hari Pahlawan semestinya tidak berhenti di monumen dan peringatan tahunan, tetapi menjadi cermin. Sudah sejauh mana kita menghidupkan kembali semangat pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Sufa Alwafiah Jamyza
Proofreader: Ayfia Amireyl Fitrothy