
Tanpa terasa, hitungan hari di kalender Ramadan mulai menipis, sebuah pertanda datangnya jatah liburan bagi mahasiswi. Terhitung sejak tanggal 9 Maret 2026, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta telah meliburkan jadwal perkuliahan selama beberapa waktu ke depan. Saatnya ritual mudik dilaksanakan. Para mahasiswa sibuk mempacking barang, Koper-koper mulai dikeluarkan, hingga war tiket kepulangan. Momen-momen yang paling dinantikan bagi para perantau.
Mudik kerap diartikan sebagai perjalanan pulang dari tanah rantauan menuju kampung halaman. Namun, bagi mahasiswi IIQ, mudik membawa makna yang lebih jauh dari sekadar pulang. Bagi mereka, mudik adalah sebuah jeda. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, rentetan tugas, hingga dinamika organisasi yang sering kali menguras emosi dan energi, mudik menjadi obat penjaga keseimbangannya.
Di tanah rantau, mahasiswa dituntut untuk menjadi mandiri, kuat, dan profesional. Namun di rumah, semua atribut itu dapat ditanggalkan. Hal ini dirasakan betul oleh Dyah Luthfy Afifah, mahasiswi semester 8 IIQ Jakarta. Ia telah merantau selama kurang lebih 14 tahun.
“Bagiku, mudik adalah rehat sejenak dari urusan yang kita geluti saat ini. Rumah adalah tempat yang menerima kita tanpa menuntut kita menjadi sosok yang kita rasakan saat ini. Di rumah, kita kembali menjadi kakak, adik, dan seorang anak,” ungkap Dyah.
Mudik juga menjadi ruang untuk mengisi kembali energi. “Charger energi,” begitu Nafisa Azkia, mahasiswi semester 4 IIQ Jakarta mendefinisikan kata mudik. Pengisian daya ini dilakukan agar mahasiswa siap menghadapi kembali ritme aktivitas kampus yang padat.
Di sisi lain, mudik juga menjadi pengingat akan kefanaan waktu. Tiket pulang bukan hanya sekadar akses transportasi, melainkan tiket untuk memanfaatkan waktu dengan orang yang kita sayangi. Mengingat waktu kebersamaan keluarga adalah suatu hal yang mahal.
“Aku takut ketika liburan ini aku nggak pulang, aku nggak bisa bertemu salah satu dari mereka lagi. Tahun kemarin aku nggak pulang dan kakekku meninggal. Itu penyesalan terbesarku,” cerita Rina Zakiana, mahasiswi semester 4 IIQ Jakarta.
Pada akhirnya, sejauh apa pun langkah kaki mengayun, muara dari sebuah perjalanan adalah rumah. Seperti yang disimpulkan oleh Wulandari Sri Agustian, mahasiswi semester 4 IIQ Jakarta, mudik adalah alarm pengingat. “Supaya kembali ingat. Kita pergi itu untuk kembali,” tuturnya.
Mudik merekatkan kembali serpihan niat yang mungkin sempat berserakan di tanah rantau. Membawa kita kembali pada titik nol, mengingatkan dari mana kita berasal, dan meluruskan kembali tujuan awal mengapa kita berani memilih jalan sebagai seorang perantau.
Selamat berlibur dan melepas rindu dengan keluarga.
Penulis: Maryam Ishmah Mumtazah
Proofreader: Nashwa Nadrah