
Ramadan memiliki satu malam yang paling dinanti oleh umat Islam, yaitu Lailatul Qadr. Malam tersebut memiliki kemuliaan yang luar biasa dibandingkan dengan malam-malam lainnya. Al-Qur’an menggambarkan kemuliaannya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana disebutkan Surah Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Artinya: “Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadr memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan lebih baik dari ibadah selama seribu bulan. Kata “seribu” dalam ayat ini bukan untuk menunjukkan jumlah yang pasti, tetapi untuk menggambarkan betapa besarnya keutamaan malam tersebut. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Kementerian Agama). Menariknya, meskipun keutamaannya begitu besar, waktu pasti Lailatul Qadr tidak disebutkan secara jelas. Mengapa demikian?
Sebenarnya sudah ada batasan mengenai kapan terjadinya Lailatul Qadr, yaitu pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. khususnya malam-malam ganjil. Hal ini disampaikan dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari yang berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadan.”
Hadis ini memberikan petunjuk bagi umat Islam mengenai batasan waktu terjadinya Lailatul Qadr dan menganjurkan untuk mencarinya dengan meningkatkan frekuensi dalam beribadah.
Mengenai hikmah dirahasiakannya waktu spesifik terjadinya Lailatul Qadr, Ar-Razi mengungkapkan pendapatnya dalam kitab tafsirnya, yaitu Mafatih Al-Ghaib. Beliau menyatakan terdapat beberapa alasan mengenai hal ini, di antaraya yaitu:
Pertama, Supaya umat Islam semangat melakukan ibadah dan semua hal yang bersifat ketaatan. Waktu spesifik terjadinya Lailatul Qadr dirahasiakan oleh Allah supaya umat Islam tidak hanya menghidupkan satu malam saja, tetapi menghidupkan seluruh malam-malam di bulan Ramadan. Ar-Razi juga menyebutkan contoh lain yang serupa, seperti dirahasiakannya kematian agar manusia berhati-hati dalam setiap perbuatan, dan dirahasiakannya pengabulan doa agar manusia selalu bersungguh-sungguh dalam berdoa.
Kedua, Merupakan bentuk kasih sayang Allah. Ar-Razi berpendapat bahwa bentuk kasih sayang Allah adalah dengan merahasiakan Lailatul Qadr, karena manusia akan terdorong untuk selalu beribadah dan menjauhi maksiat. Apabila waktu spesifik Lailatul Qadr diberi tahu dan ada manusia yang terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka menurut ar-Razi itu adalah hal yang buruk. Karena manusia tersebut tahu bahwa ia bermaksiat pada malam yang mulia (NUonline).
Dan ketiga, supaya umat Islam bersungguh-sungguh. Selain bersemangat, dirahasiakannya Lailatul Qadr juga akan menjadikan seseorang bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Bahkan, Ar-Razi berpendapat bahwa kesungguhan tersebut mendapat ganjaran pahala. Dengan begitu, dirahasiakannya Lailatul Qadr akan menghidupkan semangat, kesungguhan, dan ketulusan seseorang dalam beribadah pada bulan Ramadan.
Alasan-alasan ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr bukan hanya memiliki keutamaan dari segi ganjarannya, tetapi juga dari sisi waktu tersembunyinya. Maka dari itu, marilah kita meningkatkan semangat beribadah dalam sepuluh malam terakhir Ramadan ini.
Penulis: Fathma Mufidah Apriliani
Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba