
Di era digital, manusia hidup di tengah arus distraksi yang hampir tidak pernah berhenti. Notifikasi media sosial, video pendek, hingga tren yang terus berganti membuat perhatian manusia mudah teralihkan. Tanpa disadari, waktu berjam-jam hanya digunakan untuk scrolling layar serta berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain. Kegiatan tersebut dengan sengaja ataupun tidak selalu berulang setiap harinya.
Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk belajar, beribadah, atau mengembangkan diri justru habis digunakan untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat jangka panjang. Sehingga menyebabkan penundaan, bahkan terabaikannya kewajiban. Namun, nyatanya fenomena ini menjadi salah satu hal yang lumrah terjadi pada masyarakat, terutama kaum muda.
Berdasarkan laporan survei hasil kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC), sebanyak 35% generasi Z dan 26% generasi Y menghabiskan waktu di internet lebih dari 6 jam per hari (katadata.co.id).
Sedangkan usia tua seperti generasi X dan boomers masing-masing hanya 19% yang mengakses internet lebih dari 6 jam (katadata.co.id).
Di lingkungan perkuliahan, Indri Eka Rahmawati, mahasiswi semester delapan Institut Ilmu Al-Qu’an (IIQ) Jakarta, membagikan pengalamannya terkait distraksi digital dan pengelolaan waktu. ”Tentu saja saya sering mengalami distraksi digital, terutama dari media sosial dan algoritma konten, dampaknya menjadikan saya kadang terlena. Namun, saya selalu berusaha untuk produktif dengan kegiatan tanpa banyak scroll medsos. Seperti membuat jadwal tetap untuk pengerjaan skripsi dan untuk mempersiapkan hafalan Al-Qur’an,” ungkap Rahmawati.
Menariknya, Al-Qur’an sudah jauh-jauh hari menawarkan solusi atas jebakan digital ini. Lewat Surat Al-Ashr ayat 1-3, Allah SWT mengingatkan kita betapa berharganya waktu, dan bagaimana manusia bisa merugi jika terjebak dalam kesia-siaan.
وَالْعَصْرِۙ ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ٣
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr[103]: 1-3).
Pada ayat pertama disebutkan bahwa Allah bersumpah dengan masa supaya manusia memperhatikan masa serta memanfaatkannya dengan baik. Pengungkapan kata masa dengan menggunakan kata ‘ashr ini juga dikarenakan waktu salat ‘ashr yang memiliki keutamaan atas salat-salat yang lain (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).
Selanjutnya, ayat kedua menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berada dalam kerugian bila tidak menggunakan waktu dengan baik atau justru dimanfaatkan ke arah yang destruktif. Perbuatan buruk manusia dapat menjadi sumber kecelakaan yang menyebabkan kebinasaan (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).
Pada bagian akhir, ayat ketiga menerangkan bahwa Allah telah menjelaskan apabila manusia tidak ingin hidupnya merugi, maka ia harus beriman kepada-Nya, berbuat amal shaleh, saling mengingatkan dalam menaati kebenaran, berlaku sabar serta menghindari perbuatan maksiat yang disebabkan oleh dorongan hawa nafsunya (Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia).
Berdasarkan ayat di atas, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk bagi kita dalam menjalani kehidupan di era digital yang penuh distraksi ini. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia haruslah memperhatikan untuk apa waktu digunakan. Karena memanfaatkan waktu bukanlah sekadar menjadi sibuk, melainkan tentang memastikan waktu yang kita gunakan tidak habis dalam kelalaian.
Manusia yang beruntung bukanlah mereka yang memiliki waktu paling banyak, melainkan mereka yang mampu mengisi waktunya dengan iman, amal dan hal-hal yang memberi kebaikan bagi kehidupan.
Sebagai penutup, mari kita renungi kembali: sudahkah kita peduli terhadap penggunaan waktu sebagaimana yang ditegaskan pada QS. Al-‘ashr? Karena waktu adalah sesuatu yang terus berjalan dan tidak akan pernah kembali.
Penulis: Fathma Mufidah Apriliani
Proofreader: Nurul Fahdilah