Menatap Sunyi, Mengukir Prestasi

INTERPRETATIVE

Kampus IIQ Jakarta – Di tengah riuhnya aktivitas perkuliahan di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, menjadi mahasiswa yang aktif sering kali diidentikkan dengan lingkar pergaulan yang luas, kehadiran disetiap organisasi, atau suara yang vokal diberbagai kegiatan. Namun, Amel memilih jalan yang berbeda. Mahasiswi IIQ Jakarta semester 3 ini membuktikan bahwa produktivitas tidak harus lahir dari riuhnya panggung utama, melainkan dari ketenangan, kedisiplinan, dan keberanian dalam menentukan skala prioritas. 

Langkah yang diambil Amel tentu bukan tanpa tantangan. Memiliki kepribadian yang cenderung pendiam dan hemat berbicara kerap membuatnya disalahpahami. Tidak jarang, diamnya Amel dikira sebagai pertanda marah atau berada dalam kondisi bad mood. Ditambah lagi, ia menyadari pergaulannya tak seluas mahasiswa lain. Kendati demikian, Amel memilih untuk berdamai dengan konsekuensi tersebut demi menjaga tutur kata dan menghindari persoalan yang tidak perlu. 

“Saya lebih nyaman berbicara seperlunya karena khawatir salah dalam menyampaikan sesuatu. Memang pergaulan jadi terbatas, tetapi ada ketenangan tersendiri yang saya dapatkan,” ungkapnya. 

Dengan kondisi tersebut, sama sekali tak menyurutkan langkah Amel untuk menata hidupnya secara produktif. Berkat kedisiplinan yang telah ditanamkan sejak kecil, ia sangat menghargai waktu. Kebiasaan bangun Subuh menjadi titik mula yang krusial baginya. Sebab baginya, terlambat di awal pagi berarti merusak ritme seluruh agenda yang telah dirancang hari itu. Kepribadian Amel ini sangat menanamkan Istiqomah dalam dirinya. Ia berusaha menuntaskan tugas-tugas perkuliahan lebih awal agar konsentrasi dan target hafalannya tidak terganggu. 

Waktu Subuh pun menjadi momen paling berharga bagi Amel untuk melakukan murojaah (mengulang hafalan). Dalam pandangannya, pikiran yang masih segar selepas Subuh sangat membantu proses penyerapan ayat-ayat Al-Qur’an. Dari pengalaman hidupnya, Amel menyadari bahwa mempertahankan hafalan justru membutuhkan perjuangan dan konsistensi yang jauh lebih berat ketimbang saat pertama kali menghafalkannya.

“Sesibuk apa pun, saya harus menyempatkan murojaah, walau hanya sedikit. Sehari tanpa murojaah rasanya ada yang mengganjal. Saya pernah mengalami hafalan berantakan saat pulang ke rumah karena waktu yang sangat padat sehingga waktu murojaah berkurang. Dari sana saya belajar bahwa menghafal harus sejalan dengan kedisiplinan menjaganya,” kenang Amel. 

Perjuangan menjaga hafalan tersebut juga ia imbangi dengan membentengi adab harian. Bagi Amel, menjaga hafalan juga menjaga adab dalam keseharian, ia berusaha menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti pergunjingan (ghibah), perselisihan, hingga berkurangnya rasa hormat kepada guru. 

Prinsip kedisiplinan ini berlanjut pada caranya bersikap terhadap tren perkuliahan. Di saat banyak mahasiswa terjebak dalam budaya Fear of Missing Out (FOMO) dengan mengikuti semua kegiatan, Amel justru memilih untuk selektif. Kegiatan yang tidak berdampak pada target utama akan ia tinggalkan, sementara agenda yang memberi ruang belajar dan wawasan baru akan ia pertimbangkan. Bagi Amel, menjadi produktif adalah tentang keberanian menempatkan prioritas. 

Fokus pada tujuan akhir ini membuahkan hasil manis. Tanpa perlu banyak sorotan, Amel berhasil menyabet Juara 1 Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara. Sebuah pembuktian nyata bahwa hasil yang besar sering kali lahir dari proses sunyi yang tidak diketahui banyak orang. 

Jika ada target yang meleset, Amel tak membiarkannya menguap begitu saja. Ia menganggapnya sebagai “utang” pada diri sendiri yang wajib dibayar tuntas di hari berikutnya. Prinsip tanggung jawab ini terus ia pegang demi memantapkan hafalannya menjelang wisuda. Bagi Amel, wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik mula untuk membawa bekal ilmu serta kebiasaan baik ke tengah masyarakat. 

Dari caranya menjalani keseharian, Amel menunjukkan bahwa diam bukanlah bentuk kepasrahan. Bagi Amel, diam adalah ruang untuk bertindak, membuktikan, dan membiarkan karya yang berbicara. Tanpa disadari, perilaku yang dilakukan oleh sosok Amel ini juga selaras dengan pesan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)

Penulis: Firda Husnia Rahmah (Anggota Magang)

Proofreader: Kamila Nurisa’adah (Anggota Magang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *