
Pernahkah kita merasa bahwa belajar itu hanya sebatas duduk di kelas, membaca buku, atau mendengarkan dosen? seakan ruang lingkupnya sangat sempit, padahal Al-Qur’an mempunyai cara belajar yang lebih luas, dengan berjalan di muka bumi dan memperhatikan apa yang ada di dalamnya. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 20: “Katakanlah, Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (semua Makhluk) kemudian, Allah membuat kejadian yang akhir (setelah mati di akhirat kelak). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Menariknya, perintah dalam ayat ini bukan hanya berjalan, tetapi langsung dilanjutkan dengan kata fanzhuru, yaitu memperhatikan atau melihat. Dalam artian, perjalanan yang dimaksud bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi ada proses mengamati, memikirkan, dan mengambil pelajaran dari apa yang ditemui.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berkaitan dengan bukti kekuasaan Allah dalam penciptaan dan kebangkitan manusia, kita diajak melihat bagaimana Allah memulai penciptaan. Dari pengamatan tersebut, manusia diajak untuk kembali menyadari bahwa Allah yang sejak awal menciptakan kehidupan tentu juga berkuasa menghidupkan kembali makhluknya setelah kematian.
Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia berjalan, tetapi juga untuk mengamati. Berjalan tanpa benar-benar mengamati hal sekitar tidak membawa kita pada pengetahuan. Sebab, perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga tentang melihat, memerhatikan dan mengambil pelajaran dari hal yang ditemui.
Perintah berjalan di bumi juga terdapat dalam QS. Al-Mulk ayat 15:
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa manusia diberi kesempatan untuk menjelajahi bumi dan mencari kehidupan, seperti melalui perdagangan dan berbagai usaha. Namun, setelah segala usaha dilakukan, manusia tetap diingatkan bahwa setiap rezeki pada hakikatnya berasal dari Allah.
Penelitian lapangan, mengunjungi situs sejarah, mengenal masyarakat dari berbagai latar belakang, atau sekadar mengamati kehidupan di sekitar, semuanya dapat menjadi ruang belajar yang memperkaya pengalaman kita. Karena ada hal-hal yang tidak selalu bisa ditemukan hanya dari buku atau ruang kelas saja, bagaimana sebuah teori bertemu dengan kenyataan, bagaimana manusia menjalani hidup dengan cara yang berbeda, dan bagaimana lingkungan menyimpan banyak hal yang sering luput diperhatikan.
Mungkin karena terlalu terbiasa melihat, kita justru lupa untuk benar-benar memperhatikan. Kita melewati jalan yang sama setiap hari tanpa pernah bertanya apa yang berubah di sana. Kita bertemu banyak orang tanpa benar-benar memahami kehidupan mereka. Padahal, bisa jadi dari hal-hal sederhana itulah ada pengetahuan yang perlu digali. Karena dalam perspektif Al-Qur’an, bumi bukan hanya tempat untuk dilewati. Ia juga ruang untuk mengamati, berpikir, dan mengenali tanda-tanda kebesaran Allah.
Penulis : Rijwa Nida Hubaiba
Proofreader : Nurul Fahdilah