
Perkembangan teknologi saat ini memberikan pengaruh di berbagai sektor kehidupan, termasuk juga sektor ekonomi dan sosial. Dalam perkembangannya, teknologi telah menghasilkan sebuah inovasi fintech (financial technology), yaitu inovasi di bidang jasa keuangan yang memudahkan masyarakat melakukan transaksi dan mengelola uang dengan lebih cepat. Inovasi fintech tersebut menghasilkan sebuah produk, yang kita kenal dengan slogannya “beli sekarang, bayar nanti” atau paylater.
Fitur paylater memberikan solusi praktis untuk transaksi kebutuhan masyarakat. Hanya melalui layar, kebutuhan bisa dipenuhi dan pembayaran dapat ditunda, tidak perlu menunggu awal bulan atau masa gajian. Pendaftaran pengguna paylater pun lebih mudah dibandingkan kredit bank konvensional. Pendaftaran dilakukan secara online dan cukup menggunakan KTP serta swafoto, tidak seperti kredit konvensional yang harus melampirkan NPWP sampai slip gaji. Hal ini juga menjadikan paylater banyak diminati saat ini.
Berdasarkan data yang bersumber dari Katadata Insight Center, rentang usia 21-30 tahun merupakan pengguna paylater terbanyak, yakni sekitar 48,06% dari total pengguna nasional. Dari rentang usia tersebut, banyak di antara mereka yang berstatus mahasiswa dan baru mengalami kemandirian finasial.
Paylater memang memberikan jalur yang lebih instant untuk memperoleh kebutuhan, bahkan barang yang sekadar menjadi keinginan. Namun, paylater juga memiliki risikonya sendiri, terlebih bagi usia muda yang belum memiliki kemandirian finansial. Berbagai diskon yang ditawarkan dan akses kemudahan yang dibungkus dalam sistem checkout dulu bayar nanti, seringkali mengaburkan batas antara barang kebutuhan dan keinginan, sehingga memicu perilaku konsumtif.
Apalagi di tengah masifnya media sosial, penggunaan paylater dapat berpotensi sebagai jalan pintas untuk memenuhi gaya hidup, mengikuti trend, serta hal-hal lain di luar kebutuhan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiwa dan generasi muda, yang memang tidak lepas dari kemajuan teknologi dan media sosial.
Risiko lainnya yaitu ketika pengguna menganggap bahwa cicilan dan berhutang adalah hal yang biasa. Kebiasaan menumpuk cicilan mengakibatkan beban pembayaran yang jauh lebih besar di waktu mendatang. Jika cicilan-cicilan tersebut semakin diabaikan, hal ini akan mengganggu kestabilan ekonomi pribadi.
Mahasiswa perlu menyadari berbagai risiko yang dapat timbul dari penggunaan paylater. Sebagai mahasiswa kita harus membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan, serta literasi keuangan. Dengan kemampuan tersebut, kita sebagai mahasiswa akan mampu mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak agar terhindar dari risiko-risiko buruk gangguan finansial.
Jika sudah terlanjur ataupun terpaksa menggunakan sistem paylater, solusi yang tersedia adalah menjadi pengguna yang dapat menerapkan sistem responsible borrowing, yakni pengguna yang mematuhi prinsip atau aturan peminjaman dan berperilaku bijak, dengan hanya mengambil pinjaman sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial yang nyata. Paylater tidak seharusnya digunakan untuk membiayai hidup konsumtif di luar kemampuan finansial pribadi.
Kampus juga dapat membantu mahasiswa dengan mengadakan seminar ataupun pelatihan terkait pengelolaan serta literasi finansial. Dengan begitu, para mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga dalam life skill.
Paylater memang bukan sesuatu yang sepenuhnya memilki dampak baik ataupun buruk. Manfaat dan risikonya tergantung dengan bagaimana penggunaannya. Walaupun demikian, sebagai mahasiswa yang hidup di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial, penting bagi kita untuk mempertimbangkan secara bijak konsekuensi sebelum berbelanja, serta menyadari batasan antara kebutuhan dan keinginan semata.
Penulis: Fathma Mufidah Apriliani
Proofreader: Nurul Fahdilah