Dari Takut Salah Menjadi Berani Bicara: Ketika Pendapat Mahasiswa Hanya Berhenti di Kepala

INTERPRETATIVE
Source image: Ma’soem University

Pernah nggak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan, tetapi akhirnya memilih diam?

Bukan karena tidak punya pendapat. Justru sebaliknya, di dalam kepala sudah ada banyak hal yang ingin dikatakan. Ada yang ingin bertanya di kelas, memberikan tanggapan saat diskusi, menyampaikan ide dalam rapat organisasi, atau bahkan mengutarakan kritik kepada pihak kampus. Namun, sebelum suara itu keluar, muncul berbagai pertimbangan: “Kalau pendapatku salah bagaimana?”, “Nanti dianggap sok tahu nggak?”, atau “Takut nggak ada yang setuju”. Ujungnya, pendapat itu kembali disimpan sendiri.

Hal seperti ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Di kelas misalnya, ada mahasiswa yang sudah mengetahui apa yang ingin ditanyakan, tetapi mengurungkan niat karena takut pertanyaannya dianggap sederhana. Dalam diskusi, ada yang memiliki pandangan berbeda, tetapi memilih mengikuti pendapat mayoritas karena tidak ingin dianggap berseberangan. Begitu juga dalam organisasi. Saat rapat, mungkin ada anggota yang sebenarnya memiliki ide atau kurang setuju dengan suatu keputusan, tetapi memilih diam karena merasa pendapatnya tidak cukup kuat untuk disampaikan.

Artinya, persoalannya bukan sekadar mahasiswa tidak berani berbicara di depan kelas. Lebih dari itu, ada kebiasaan untuk menahan pendapat ketika berada dalam situasi yang membuat kita merasa takut salah, takut dinilai, atau takut berbeda dengan orang lain.

Padahal, keberanian berbicara bukan berarti harus selalu menjadi orang yang paling aktif dalam setiap kesempatan. Berani berbicara berarti mampu menyampaikan apa yang kita pikirkan ketika memang ada sesuatu yang ingin atau perlu disampaikan.

Source image: itera.ac.id

Solusinya bukan memaksa diri untuk langsung menjadi orang yang paling vokal. Keberanian justru bisa dibangun secara perlahan. Bisa dimulai dari mengajukan satu pertanyaan di kelas, memberikan satu tanggapan dalam diskusi, atau mengatakan ketidaksetujuan terhadap suatu keputusan dengan cara yang tetap menghargai orang lain.

Tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar percaya diri. Sebab, sering kali rasa percaya diri justru muncul setelah kita berani mencoba, bukan sebelum mencoba. Ketika memiliki pendapat, mahasiswa juga bisa membiasakan diri untuk memahami terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan. Tidak harus menggunakan bahasa yang rumit atau menyusun argumen seperti seorang ahli. Cukup pahami apa yang ingin dikatakan, mengapa kita berpikir demikian, kemudian sampaikan dengan bahasa yang jelas.

Salah satu hal yang paling sering menahan seseorang untuk berbicara adalah ketakutan terhadap kesalahan. Padahal, salah dalam berpendapat bukan berarti kita tidak layak untuk berbicara. Di kelas, pendapat kita mungkin dikoreksi dosen. Dalam diskusi, gagasan kita bisa saja tidak disetujui. Dalam organisasi, ide yang kita ajukan mungkin tidak menjadi pilihan bersama. Semua itu merupakan kemungkinan yang wajar ketika kita memilih untuk bersuara.

Keberanian mahasiswa untuk berbicara juga tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu. Lingkungan memiliki peran besar dalam menentukan apakah seseorang merasa aman untuk menyampaikan pendapat. Kelas yang memberi ruang untuk bertanya dan berbeda pendapat, organisasi yang tidak mematikan gagasan anggotanya, serta forum kampus yang mau mendengarkan aspirasi mahasiswa dapat menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk membangun keberanian.

Sebab, akan sulit meminta mahasiswa untuk berani berbicara jika setiap pendapat yang berbeda justru ditertawakan, disepelekan, atau langsung dianggap salah. Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mampu memahami materi atau menyelesaikan tugas. Ada proses lain yang juga perlu dibangun selama berada di kampus, belajar menyampaikan pikiran, belajar berbeda pendapat, belajar menerima kritik, dan belajar memperjuangkan gagasan dengan cara yang baik.

Mungkin hari ini kita masih ragu mengangkat tangan di kelas, masih berpikir beberapa kali sebelum menyampaikan ide dalam rapat, atau masih membutuhkan waktu sebelum berani menyampaikan kritik kepada pihak kampus. Tidak apa-apa, karena keberanian tidak selalu dimulai dari suara yang lantang. Kadang, keberanian hanya dimulai dari satu kalimat sesederhana, “Saya ingin menyampaikan pendapat.”

Penulis: Nurul Fahdilah

Proofreader: Maryan Ishmah Mumtazah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *