
Siapa sangka, kegemaran berbicara di hadapan publik membawa salah seorang mahasiswa IIQ Jakarta menjadi peserta termuda yang menyabet juara dalam ajang Dai Daiyah Piala Gubernur Jakarta. Siti Salwa Naylal Fida, daiyah muda yang pernah hadir di layar kaca TVOne tersebut merupakan mahasiswa IIQ Jakarta semester dua prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Tidak hanya menjuarai berbagai perlombaan, ia juga kerap diundang untuk mengisi kajian keagamaan di berbagai kesempatan.
Kesenangannya dalam dunia dakwah telah tumbuh sejak usia belia. Belajar dari perjalanan membersamai dakwah sang Ibu, yang akrab ia sapa Ummah, Salwa memulai panggung pertamanya dalam sebuah tradisi Istifalan, kegiatan majelis taklim di daerahnya, di mana anak-anak bergiliran berbicara di depan jamaah dan peserta terbaik diberikan hadiah. Berbicara di hadapan sekitar 100 orang jamaah menjadi latihan awal bagi Salwa untuk membangun kepercayaan dirinya sejak kecil bersama teman-teman sekampungnya. Pengalaman tersebut berlanjut hingga usia Sekolah Dasar, Salwa tumbuh menjadi langganan juara ceramah dari tingkat kecamatan hingga nasional.

Langkah dakwahnya pun semakin matang ketika menginjak kelas 2 SMA, saat ia mulai dipercaya untuk mengisi kajian serta mengadakan safari dakwah bersama Ummah.

Lompatan besar dalam karier dakwah Salwa terjadi saat ia berhasil meraih Juara 3 Dai Daiyah Piala Gubernur DKI Jakarta yang diselenggarakan oleh Damai Indonesiaku TVOne. Keikutsertaannya berawal dari keisengan setelah dibujuk sang Ibu. Bahkan, ia baru mengirimkan video pendaftaran pada hari terakhir penutupan.
Tantangan memuncak di babak 10 besar ketika ia harus menghadapi materi yang diberikan secara mendadak tanpa waktu persiapan yang cukup. Menghadapi kepungan kompetitor para dai senior yang berusia jauh di atasnya, Salwa sempat dihinggapi rasa gugup. Namun, ia berhasil bangkit berkat untaian nasihat ibunya.
“Untuk kembali percaya diri, aku selalu pegang kata Ummah, usaha dan doa kita lah yang dilihat sama Allah. Jadi aku perbanyak aja usaha dan doa,” tutur Salwa hangat.
Setelah menimba ilmu di IIQ Jakarta, Salwa merasakan pengaruh yang luar biasa terhadap kualitas syiarnya. Kebiasaannya yang dulu hanya mengutip ayat Al-Qur’an berdasarkan terjemahan kini berkembang menjadi pemahaman tafsir yang lebih luas, mendalam, dan terstruktur.
Saat ini, ia dipercaya menjadi salah satu perwakilan kampus dalam pelatihan sertifikasi pendakwah oleh Ikatan Dai Indonesia (IKADI). Hal ini menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan dakwahnya, setelah sebelumnya ia dipercaya mengisi kajian di sekolah dasar tempatnya menimba ilmu.
Sebagai bagian dari Gen Z, Salwa sadar betul bahwa metode penyampaian nilai agama harus adaptif. Di tengah kesibukan asrama yang padat dengan perkuliahan dan setoran tahfiz, ia tetap memanfaatkan media sosial untuk memetakan keresahan teman sebaya sebagai inspirasi materi. Agar materi berat mudah dicerna oleh anak muda, ia kerap menyelipkan bahasa gaul kekinian, kuis interaktif, hingga celetukan khas seperti “bener kagak nih nyak?” demi mencairkan suasana jamaah.
“Dakwah itu merangkul bukan memukul, mengajak bukan menginjak. Menghidupkan dakwah, bukan hidup dari dakwah,” ungkapnya.
Untuk menyeimbangkan antara kegiatan sebagai mahasiswa dan pendakwah, Salwa selalu mengingatkan dirinya akan tanggung jawab. Pemikiran kesempatan tak datang dua kali, membuatnya selalu berusaha memanfaatkan setiap waktunya tanpa mengabaikan kebutuhan beristirahat.
Tentu perjalanan seorang daiah muda tidak lepas dari kerikil tajam. Salwa mengaku kerap merasa gemas ketika konten-konten negatif lebih mudah viral (FYP) dibanding konten edukasi keagamaan. Belum lagi adanya stigma di media sosial yang mengeklaim bahwa suara perempuan adalah aurat sehingga membatasi ruang gerak daiah. Dirinya juga sempat gagal dalam langkah terakhir mengikuti AKSI Indosiar pada tahun 2026 ini.
Ke depannya, Salwa berharap bisa memperluas jangkauan syiar hingga ke luar kota bahkan luar negeri. Salah satu impian mulianya adalah bisa berdakwah menggunakan Al-Qur’an Isyarat, salah satu keunggulan mahasiswa IIQ Jakarta. Ia juga menyampaikan keinginan kuatnya untuk mengharumkan nama IIQ di panggung Aksi Indosiar.
Salwa turut membagikan tips untuk teman-teman yang ingin ikut terjun dalam dunia dakwah, “Mulailah berani bicara dari hal-hal kecil, seperti aktif bertanya di kelas. Jangan takut membagikan kebaikan di first account media sosial kita. Ubah mindset, lakukan semua karena Allah dan diri kita sendiri.”
Penulis: Maryam Ishmah Mumtazah
Proofreader: Nurul Fahdhilah