Imam Shamsi Ali: Putra Bangsa Peredam Islamophobia di AS

INTERPRETATIVE
Sourche image: kompas.com

Tragedi 11 September 2001 yang menimpa Twin Towers World Trade Centre (TWC) menimbulkan stigma negatif mengenai Islam di dunia barat. Ialah Shamsi Ali, seorang Imam Muslim asal Indonesia di New York yang berhasil membuka kembali ruang kepercayaan Barat pada dunia Islam.

Ulama asal desa Bulukumba, Sulawesi Selatan ini lahir pada tanggal 5 Oktober 1967 dengan nama Muhammad Utteng Ali. Kehidupan masa kecilnya jauh dari kata religius. Justru, kisah masa mudanya dipenuhi dinamika kenakalan remaja, bahkan sempat mencicipi dinginnya jeruji besi akibat perkelahian di sekolah. Hingga kemudian, kepala sekolahnya, Abdul Jabbar Asyiri berinisiatif mengubah nama tengahnya menjadi shamsi yang berarti “matahari” dalam bahasa Arab. Perubahan nama itu diharapkan menjadi doa agar kelak Ali mampu menerangi hati banyak orang, sebagaimana matahari menerangi bumi.

Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di desa Tana Toa, Shamsi Ali dikirim ke Pesantren Darul Arqam Makassar hingga menjadi guru di sana. Langkah akademiknya kemudian berlanjut saat ia mendapat beasiswa untuk belajar di Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan. Di sana, Shamsi Ali menyelesaikan studi sarjananya pada bidang tafsir, hingga melanjutkan studi magister di bidang perbandingan agama. Selain belajar, di Pakistan, Shamsi Ali juga turut aktif mengajar di berbagai tempat serta menjadi muazin.  

Kedatangannya ke New York bermula pada musim haji tahun 1996. Saat itu, Shamsi Ali mendapatkan mandat untuk berbicara di Konsulat Jenderal Indonesia di Jeddah. Bertemu dengan beberapa jamaah asing, Ali mendapatkan tawaran dari Duta Besar Indonesia untuk PBB agar membangun masjid baru di New York bagi masyarakat Indonesia. Shamsi Ali menerima tawaran tersebut dan pindah ke New York pada awal tahun 1997.

New York bukanlah kota yang diimpikan oleh Shamsi Ali sebelumnya. Hidup lama di Timur Tengah, bagi Shamsi Ali Amerika adalah negara yang tidak menyimpan keramahan sedikitpun terhadap Islam. Namun, pandangannya berubah ketika ia menjadi imam di Islamic Indonesian Cultural Centre (ICC). Bukan dari jamaahnya, namun dari tetangga non-muslimnya yang baik hati.

Awalnya, ia mencurigai kebaikan hati sang tetangga yang setiap pagi menyapu bersih halaman depan rumahnya sendiri, sebuah kebiasaan yang ternyata dilakukan Sang Tetangga sejak lama. Namun, pada akhirnya, Shamsi Ali merasa justru dari tetangganya itulah ia belajar makna menjadi Muslim yang baik, bukan lewat ajaran, melainkan lewat teladan hidup sehari-hari. Hingga setelah peristiwa yang makin menyudutkan Islam itu terjadi, Shamsi Ali menemukan cara baru dalam berdakwah.

Tak hanya lewat mimbar ke mimbar, Shamsi Ali membawa Islam dengan mengetuk pinu ke pintu rumah peribadatan agama lain. Menurut dia, sudah saatnya Islam menunjukkan jati diri yang sesungguhnya, yakni sebuah entitas sosial yang membawa rahmat bagi semesta, bagi lingkungan sekitar. Muslim di Amerika Serikat (AS) harus mengambil peran aktif dalam melakukan aksi damai sekaligus memperkenalkan eksistensi diri kepada publik.

Hasil memang tak mengkhianati usaha. Upaya Shamsi mendatangi gereja dan sinagog diterima secara hangat oleh para pendeta dan rabi. Apa yang dilakukan Shamsi membuat kondisi pascaserangan 11 September menjadi lebih kondusif bagi umat Islam di Amerika Serikat (AS). Mulai muncul keingintahuan publik Amerika Serikat (AS) mengenai Islam. Terlebih, setelah diadakan ruang-ruang dialog antaragama.

Saat Islam di AS dikenal dengan ajaran yang antidemokrasi dan intoleran, muncul wajah Islam lain yang diperkenalkan Shamsi, yakni Islam yang pro demokrasi dan toleran. Menurut Shamsi, dua wajah itu yang membuat publik AS penasaran dengan Islam. Dari peristiwa 11 September itu, Islam di Amerika Serikat (AS) terus berkembang pesat, jumlah masjid pun mengalami peningkatan.

Atas jasanya, Imam Shamsi Ali diangkat sebagai “Duta Perdamaian” oleh Federasi Agama Internasional pada tahun 2002 dan pada tahun 2006 dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di Kota New York oleh New York Magazine.  Beberapa penghargaan lain yang telah diterimanya, antara lain, Penghargaan Antaragama ICLI (2008), Peghargaan Medali Ellis Island (2009), dan beberapa penghargaan lainnya.

Kini, Imam Shamsi Ali menjadi imam di Masjid Al Hikmah di Astoria dan Direktur Jamaica Muslim Center di Queens. Semangatnya menebarkan Islam damai di Bumi Barat sangat menginspirasi dunia internasional.

Penulis: Maryam Ishmah Mumtazah

Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *