Lebih dari Sekadar Bacaan: Al-Qur’an sebagai Penjaga Kesehatan Mental dan Pengasah Akal

INTERPRETATIVE

Di tengah derasnya arus informasi yang masuk dan tuntutan kehidupan modern, banyak orang mengalami kelelahan mental, stres, hingga kesulitan berkonsentrasi. Dalam kondisi demikian, Al-Qur’an hadir bukan hanya sebagai petunjuk hidup, tetapi juga sebagai sumber ketenangan, sarana untuk mengasah kemampuan berpikir, dan mempertajam akal. Berulang kali Allah mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran melalui ayat-ayat-Nya. Sebagaimana dalam firman Nya:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (Q.S Al-An’am:32)

Lafaz اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ  yang berarti “Apakah kamu tidak mengerti?” tercantum sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung kemuliaan dan petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, pertanyaan “Tidakkah kamu berakal?” merupakan dorongan agar manusia merenungkan kandungan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Scoping review yang diterbitkan pada 2023 mengkaji 15 penelitian terkait pengaruh membaca dan mendengarkan Al-Qur’an memberikan dampak positif  terhadap kesehatan mental. Kajian tersebut menemukan bahwa manfaat yang paling banyak dilaporkan adalah penurunan tingkat kecemasan, stres, dan depresi. Peneliti menyebut tilawah Al-Qur’an sebagai metode yang sederhana, mudah diterapkan, dan berbiaya rendah untuk mendukung kesehatan psikologis.  Karena Gelombang suara yang teratur saat tilawah juga dapat memberikan efek relaksasi sehingga tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang (PubMed Central).

Selain itu, didalam jurnal nasional library of medicane dijelaskan bahwa proses membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an melibatkan berbagai fungsi kognitif otak, seperti konsentrasi, memori, dan kemampuan bahasa. Studi terhadap penghafal Al-Qur’an menunjukkan bahwa mereka cenderung memiliki kemampuan mengingat yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak terbiasa menghafal. Aktivitas murojaah secara konsisten turut melatih otak agar tetap aktif dan terorganisir. (PubMed Central, 2023)

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa sekitar 2,45 juta remaja di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan (Kompas.com). Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan penanganan yang komprehensif, mencakup aspek medis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam konteks spiritual, membaca dan menghayati Al-Qur’an dapat menjadi salah satu alternatif pendamping yang berpotensi memberikan ketenangan batin dan membantu mengurangi kegelisahan emosional. Manfaat tersebut tidak hanya dirasakan pada aspek intelektual, tetapi juga emosional dan psikologis. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 yang menyatakan bahwa mengingat Allah dapat menghadirkan ketenteraman hati,

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (tambahkan tafsirannya)

Dalam penafsirannya, Sayyid Qutb menggambarkan zikir sebagai ikatan yang menghubungkan manusia dengan Allah dan seluruh alam semesta. Ikatan ini melahirkan ketenteraman batin, sementara keterputusan darinya menjadikan manusia merasa kesepian, takut, dan kehilangan makna hidup. Dengan demikian, Al-Qur’an dapat dipahami sebagai salah satu sumber dukungan spiritual dalam menjaga kesehatan mental.

Raihatul Jannah, salah satu mahasiswa IIQ Jakarta yang sedang menghafal Al-Qur’an mengungkapkan “Otak ibarat mesin yang terus di asah jika kita menghafal Al-Qur’an, semakin aku terus menghafal, rasa nya pikiran semakin tajam seperti pisau” ujarnya.

Agar manfaat Al-Qur’an dapat dirasakan secara optimal, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Meluangkan waktu khusus setiap hari untuk tilawah, meskipun hanya beberapa menit.
  2. Membaca terjemahan dan tafsir agar pesan yang terkandung dalam ayat lebih mudah dipahami.
  3. Murajaah konsisten bagi yang sedang menghafal Al-Qur’an.
  4. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

Pada akhirnya, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan, melainkan cahaya yang menerangi jalan hidup manusia. Di dalamnya terdapat ketenangan bagi hati yang gelisah sekaligus latihan bagi akal agar terus berkembang. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak hanya memperoleh kedamaian jiwa, tetapi juga ketajaman berpikir yang membantunya menghadapi berbagai tantangan zaman.

Penulis: Nashwa Nadrah

Proofreader: Nurul Fadhillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *