Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sang Pandu Agung di Balik Lahirnya Gerakan Pramuka

INTERPRETATIVE
Source image: Kompasiana

(13/8/26) — Setiap 14 Agustus, jutaan anggota Gerakan Pramuka memperingati Hari Pramuka. Namun, di balik lahirnya wadah kepanduan nasional ini, ada sosok pionir yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX, atau yang dikenal sebagai bapak pramuka Indonesia. Lahir di Yogyakarta 12 April 1912 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Dorodjatun, ia merupakan putra kesembilan pasangan dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara (Raden Ajeng Kustilah). (Kratonjogja.id)

Sebelum Gerakan Pramuka berdiri, kegiatan kepanduan di Indonesia sudah berkembang sejak masa Hindia Belanda, namun tumbuh terpisah-pisah berdasarkan latar belakang agama, daerah, dan kelompok. Pada akhir 1950-an, jumlah organisasi kepanduan bahkan mencapai lebih dari 60 organisasi, kondisi tersebut membuat gerakan kepanduan terpecah dan membutuhkan satu wadah bersama. Di titik inilah kepemimpinan Sri Sultan mulai terlihat.

Sejak muda, Sri Sultan sudah aktif dalam dunia kepanduan, salah satunya bergabung dengan organisasi kepanduan Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging (NIPV). Keterlibatannya yang konsisten mengantarkannya menyandang gelar Pandu Agung menjelang 1960, sekaligus ditunjuk sebagai Wakil Ketua Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Kepanduan. Kiprahnya bukan sekadar formalitas di atas kertas. Presiden Soekarno kerap berkonsultasi langsung dengannya untuk membahas rencana penyatuan berbagai organisasi kepanduan, mulai dari konsep penggabungan hingga arah pengembangannya ke depan. Sosoknya sebagai guru dan panutan bagi kalangan pandu inilah yang membuat Sri Sultan dipercaya menjadi figur sentral dalam proses penyatuan tersebut.

Pengalaman ini menjadi bekal penting saat gerakan kepanduan Indonesia mulai diarahkan menuju satu organisasi nasional. Gagasan penyatuan kepanduan semakin kuat setelah Presiden Soekarno mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Semanggi, Ciputat, pada Oktober 1959. Presiden lalu mengumpulkan sejumlah tokoh kepanduan untuk membahas pembentukan satu wadah bersama, dan Sri Sultan menjadi salah satu tokoh yang dipercaya dalam proses tersebut.

Source image: Pramuka Jakarta

Pada 9 Maret 1961, nama “Pramuka” mulai diperkenalkan dan Sri Sultan ditunjuk sebagai anggota panitia pembentukan Gerakan Pramuka. Melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961,  Gerakan Pramuka ditetapkan sebagai satu-satunya wadah gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Berbagai organisasi kepanduan pun menyatakan meleburkan diri kedalamnya. Puncaknya terjadi pada 14 Agustus 1961. Dalam upacara di halaman Istana Negara, Presiden Soekarno resmi memperkenalkan Gerakan Pramuka kepada masyarakat dan menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai ketua Kwartir Nasional pertama.  Panji yang menjadi lambang perjuangan dan untuk dipertahankan kemuliaannya dalam situasi apapun. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pramuka. (Kwartir nasional)

Kepemimpinan Sri Sultan tidak berhenti pada proses kelahiran organisasi. Ia memimpin Kwartir Nasional selama 13 tahun, dari 1961 hingga 1974, dalam empat periode kepengurusan. Di bawah kepemimpinannya, Gerakan Pramuka dikembangkan bukan sekadar kegiatan kepanduan, melainkan gerakan pendidikan bagi kaum muda. Konsistensi dan visi jangka panjang inilah yang membuat sumber resmi Jamnas Pramuka XI menobatkannya sebagai “Bapak Pramuka Indonesia”.

Warisan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak hanya tercatat dalam sejarah organisasi, tetapi juga hidup dalam identitas Gerakan Pramuka hingga kini. Perannya membuktikan bahwa persatuan bisa dibangun dari berbagai kelompok-kelompok dengan latar belakang berbeda, asalkan ada sosok yang mau merangkul dan memimpin dengan konsisten. Dari kepanduan yang dulu terpecah, lahirlah satu gerakan yang menjadi bagian penting pendidikan generasi muda Indonesia.

Lebih dari enam dekade setelah Gerakan Pramuka diperkenalkan, nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX tetap melekat dalam perjalanan organisasi ini. Ia bukan hanya seorang raja dan negarawan, tetapi juga Pandu Agung yang meletakkan dasar bagi Gerakan Pramuka Indonesia sekaligus teladan tentang bagaimana persatuan lahir dari kepemimpinan yang sabar dan konsisten.

Penulis: Nashwa Nadrah

Proofreader: Rijwa Nida Hubaiba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *