
Menjalani perkuliahan memang asyik. Tapi, tuntutan akademik yang tinggi, kegiatan organisasi yang padat, serta tekanan sosial sering kali membuat mahasiswa kewalahan dan menghabiskan energi. Tidak sedikit pula, mahasiswa yang mengalami academic burnout ketika berkuliah. Berdasarkan data Lumina Foundation-Gallup 2024 State of Higher Education Study, jumlah mahasiswa Amerika yang putus kuliah karena stres emosional mencapai 54%, dan 43% lainnya karena alasan kesehatan mental (Salsa, 2024).
Academic burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan akademik yang berkepanjangan. Mahasiswa yang mengalaminya biasanya kehilangan motivasi belajar, sulit berkonsentrasi, merasa pesimis, mudah marah, serta menurunnya minat pada tugas dan kegiatan akademik lainnya.
Perlu dipahami, academic burnout bukanlah gangguan mental klinis, melainkan kondisi kelelahan psikis yang muncul setelah tekanan berlangsung dalam waktu lama. Bukan masalah yang sepele, keadaan ini bisa berkembang menjadi depresi dan kecemasan. Karena itu, dalam mengatasi hal ini, kita dapat menerapkan study-life balance.
Study-life balance adalah keseimbangan antara kehidupan pribadi dan belajar. Keterampilan ini penting dimiliki oleh mahasiswa karena dapat membantu menghindari kelelahan, mengurangi stres, dan menjaga kesehatan mental. Lalu, bagaimana cara menerapkan study-life balance dalam keseharian seorang mahasiswa? Berikut tips yang bisa dilakukan:
- Buat jadwal dan tentukan prioritas dengan baik
Membuat jadwal kegiatan harian dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus keseimbangan waktu. Buatlah skala prioritas antara tugas kuliah, menambah hafalan, murojaah, kegiatan organisasi, dan waktu untuk beristirahat. Jadwal yang baik tidak boleh melupakan waktu istirahat dan bersantai agar terhindar dari kejenuhan akademik dan hafalan.
- Tentukan metode belajar yang tepat dan jangan menunda
Sebagai pelajar, kita sebaiknya menemukan metode belajar yang cocok untuk diri sendiri. Salah satu metode yang dapat dicoba adalah teknik pomodoro, yaitu dengan melakukan fokus penuh selama 25 menit, kemudian istirahat selama 5 menit. Setelah empat siklus, lakukan istirahat lebih panjang sekitar 15-30 menit. Teknik ini efektif untuk menjaga konsentrasi dan mencegah kelelahan. Selain itu, hindari menunda tugas agar tidak kewalahan. Kerjakan tugas sesuai prioritas yang telah disusun dalam jadwal harian.
- Bangun hubungan sosial yang positif
Memiliki lingkungan sosial yang positif membantu kita dalam menjaga kesehatan psikis. Lingkungan yang suportif, teman, dan keluarga yang selalu mendukung dalam hal-hal positif, dapat menghadirkan energi baik bagi diri kita.
- Berolahraga secara teratur dan istirahat yang cukup.
Berolahraga tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental. Olahraga yang teratur dapat menghasilkan kualitas tidur malam yang bagus. Dengan istirahat baik, semangat dan mood harian akan selalu terjaga.
Study-life balance merupakan keterampilan penting bagi mahasiswa. Dengan menerapkannya, kita dapat menyeimbangkan antara kehidupan akademis dan pribadi. Sehingga seorang mahasiswa dapat tumbuh dengan optimal, baik secara sehat maupun psikis.
Penulis: Fathma Mufidah Apriliani
Proofreader: Maryam Ishmah Mumtazah