Tragedi Rinjani dan Bahaya di Balik Pesonanya

INTERPRETATIVE

Source Image: TrekkingRinjani.com

Lombok, NTB – Jasad Juliana Marins (26), turis dari Brasil, ditemukan tim SAR pada Selasa (25/6) setelah hilang empat hari di kawasan Gunung Rinjani. Ia terjatuh ke jurang sedalam ratusan meter ketika mendaki bersama pemandu lokal pada Sabtu (21/6). Medan curam, kabut tebal, dan suhu ekstrem membuat proses evakuasi berlangsung lebih dari 24 jam.

Gunung Rinjani, yang berada pada ketinggian 3.726 mdpl, memang selalu memikat hati ribuan pendaki, namun sekaligus menyimpan sejarah geologi yang mencekam. Pada tahun 1257, Gunung Samalas—gunung purba yang kala itu berdiri megah di kawasan ini—meletus dahsyat dan membentuk kaldera besar yang kini dikenal sebagai Danau Segara Anak. Letusan ini begitu kuat hingga diyakini memicu anomali iklim global di abad ke-13. Sisa letusan itulah yang kemudian melahirkan Gunung Rinjani, yang menjulang dari bekas kaldera Samalas. Hingga kini, aktivitas vulkanik di kawasan ini masih berlanjut, dengan letusan dangkal terakhir tercatat pada tahun 2016.

Selain ancaman vulkanik, jalur pasir licin, jurang terjal, serta cuaca di luar prediksi menjadikan pendakian Rinjani salah satu yang paling menantang di Indonesia. Pada musim puncak, jumlah pengunjung kerap melebihi batas kuota, sementara fasilitas keselamatan dan pengelolaan sampah dinilai belum memadai.

Pemerintah pusat menegaskan pentingnya pembenahan. “Keselamatan wisatawan adalah prioritas utama. Kami terus memperkuat SOP dan pengawasan di destinasi ekstrem,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangan tertulis yang diterima CNN Indonesia, Selasa (24/6). Pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani juga menutup sementara jalur pendakian hingga evaluasi selesai dilakukan.

Sejumlah pengamat pariwisata dan aktivis lingkungan mendorong agar tragedi ini menjadi momentum untuk memperketat sertifikasi pemandu, meningkatkan papan peringatan multibahasa, dan menyediakan titik evakuasi darurat di jalur rawan. Di sisi lain, organisasi pendaki lokal berharap ada pelatihan SAR lanjutan dan peningkatan infrastruktur keselamatan untuk mencegah insiden serupa.

Gunung Rinjani akan tetap menjadi primadona pendakian Nusantara. Namun tragedi ini mengingatkan bahwa pesona alam harus sejalan dengan kesiapan infrastruktur keselamatan dan kesadaran pendaki. Tanpa itu, setiap langkah di jalur menuju puncak bisa berujung pada risiko yang mahal bahkan nyawa.

Penulis: Sufa Alwafiah Jamyza

Proofreader : Adilah Hidayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *