Setiap pagi, deretan kursi di sebuah ruang kantor di China mulai terisi. Ada yang membuka laptop, ada pula yang sibuk mengetik sambil menyeruput kopi. Suasananya seperti kantor pada umumnya, namun tidak satu pun dari mereka memiliki pekerjaan sungguhan.
Mereka datang ke kantor palsu, tempat yang sengaja dirancang menyerupai ruang kerja profesional, lengkap dengan Wi-Fi, meja kerja, kopi gratis, hingga makan siang. Bukan karena mereka sedang dalam perjalanan karier yang mapan, melainkan karena mereka sedang menganggur.
Yang menarik, mereka rela membayar Rp 68 ribu hingga Rp 113 ribu per hari untuk bisa bekerja di tempat ini. Bukan pekerjaan dalam arti sebenarnya, melainkan simulasi cara baru generasi muda China menghadapi tekanan sosial, mencari struktur hidup, dan menjaga kewarasan mental.
Penyedia jasa kantor semu bahkan menawarkan paket immersive yang mencakup jabatan palsu, tugas fiktif, hingga interaksi ala “kantor beneran” seperti rapat mingguan atau atasan yang memberi evaluasi. Beberapa tempat bahkan menambahkan layanan dokumentasi untuk memperkuat kesan profesional.
Di balik semua itu, ada alasan mendalam, yaitu tekanan ekonomi dan sosial yang kian memberat. Menurut data resmi dari Biro Statistik Nasional China yang dikutip Reuters (17 April 2025), tingkat pengangguran kelompok usia 16–24 tahun mencapai 16,5%, sedangkan usia 25–29 tahun berada di angka 7,2%. Bagi banyak lulusan baru dan pencari kerja muda, realita ini menjadi tantangan yang tak mudah dihadapi.
Menganggur bukan sekadar persoalan finansial, tapi juga menyentuh dimensi psikologis dan sosial. Di tengah ekspektasi keluarga dan masyarakat, kantor palsu menjadi ruang aman bagi mereka yang ingin tetap terlihat aktif, merasa berguna, atau sekadar punya alasan untuk bangun pagi.
Bagi sebagian orang, kantor palsu menjadi semacam terapi sosial. Di sana, mereka bisa menjalani rutinitas seperti orang bekerja: datang pagi, duduk bekerja, istirahat makan siang, lalu pulang sore. Struktur ini membantu mengatasi rasa kehilangan arah, mengisi kekosongan hari-hari, dan bahkan membangun kepercayaan diri.
Biaya yang dikeluarkan dianggap sepadan. Dibanding bekerja dari kafe atau rumah, kantor semu menawarkan atmosfer yang lebih fokus tanpa distraksi, dan justru penuh simulasi.
Selain itu, kantor-kantor ini mulai berkembang sebagai komunitas informal. Banyak yang saling bertukar informasi lowongan kerja, belajar keterampilan digital, atau sekadar berbagi semangat satu sama lain. Dalam beberapa kasus, ruang ini menjadi awal dari proyek kolaboratif yang sesungguhnya.
Meski mendapat banyak respon positif dari banyak pihak, fenomena ini juga menuai kritik. Beberapa pihak menilai kantor palsu dapat menjadi bentuk pelarian, memperpanjang masa pengangguran, dan menghambat proses pencarian pekerjaan sesungguhnya.
Fenomena “kantor palsu” memang terdengar ironis. Membayar untuk bekerja, padahal sedang tidak punya pekerjaan. Namun, di balik keanehannya, tren ini menyimpan pesan penting bahwa kebutuhan manusia untuk merasa produktif dan bernilai tidak bisa diabaikan.
Dalam situasi di mana lapangan kerja tak cukup tersedia, dan tekanan hidup kian mendesak, generasi muda menciptakan jalannya sendiri. Meski hanya ilusi, kantor tipuan ini memberi mereka harapan. Dan harapan, betapapun sederhana, tetap menjadi energi untuk bertahan.
Penulis : Ayfia Amireyl Fitrothy
Proofeader : Aisya Humaira