Dari Jong Java ke Generasi Scroll: Ketika Sumpah Pemuda Tak Lagi Tentang Persatuan, Tapi Tentang Pikiran yang Terjajah

INTERPRETATIVE


Setiap 28 Oktober, bangsa ini kembali menggaungkan Sumpah Pemuda. Spanduk dan slogan berisi semangat persatuan menghiasi ruang publik, seolah mengingatkan bahwa pemuda adalah motor kebangkitan bangsa. Namun, di balik seremoni dan gema pidato, ada ironi yang luput dibicarakan, yaitu Sumpah Pemuda telah menjadi ritual tanpa pemaknaan ulang terhadap esensinya.

Sumpah yang diikrarkan para pemuda 1928 bukan sekadar simbol persatuan, melainkan tindakan perlawanan intelektual. Di bawah bayang kolonialisme, mereka sadar bahwa penjajahan bukan hanya soal kuasa ekonomi dan politik, tapi juga penguasaan atas cara berpikir. Identitas mereka dipecah-pecah menjadi Jong Java, Jong Sumatra, dan Jong Ambon. Sebuah strategi halus yang menanamkan perbedaan dan rasa inferior.

Maka ketika mereka berkata “Kami putra dan putri Indonesia”, itu bukan sekadar deklarasi nasionalisme. Itu adalah revolusi kesadaran, pembebasan dari identitas yang didefinisikan oleh kekuasaan luar. Mereka tidak hanya menyatukan bangsa, tapi juga menyatukan kesadaran bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari pikiran yang merdeka.

Namun 97 tahun kemudian, bentuk penjajahan berubah rupa. Tak lagi berupa senapan dan penjara, melainkan layar sentuh dan algoritma.

Kita hidup di tengah kolonialisme digital. Di mana identitas, selera, bahkan cara berpikir ditentukan oleh tren global dan logika konsumsi. Kini, bukan lagi pemuda yang memimpin arah zaman, tapi zaman yang mengatur ke mana pemuda harus berjalan.

Validasi sosial menggantikan perdebatan ide. Scroll menggantikan diskusi. Dan nasionalisme bergeser menjadi pencitraan digital yang dangkal. Jika pemuda 1928 menolak dipecah oleh politik kolonial, maka pemuda 2025 harus menolak tercerai oleh distraksi dan algoritma.

Sumpah Pemuda dulu lahir dari ruang-ruang diskusi, tulisan, dan pertukaran gagasan. Mereka bukan sekadar bangga menjadi pemuda, tetapi berani menggugat struktur berpikir yang menindas.

Dan tugas kita hari ini adalah melanjutkan gugatan itu bukan hanya dengan spanduk dan seremoni, tapi dengan pikiran yang kritis, tulisan yang jujur, dan keberanian untuk tidak larut dalam budaya penyeragaman.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukanlah titik akhir, melainkan tanda koma dalam perjuangan panjang. Generasi hari ini memegang tanggung jawab untuk melanjutkan kalimat itu dengan gagasan, keberanian, dan keaslian yang tak tunduk pada zaman.

Penulis : Ayfia Amireyl Fitrothy

Proofreader: Aisya Humaira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *