World Environment Day: Menakar Sisa Nurani Manusia di Tengah Sekaratnya Hutan Nusantara

INTERPRETATIVE
Source image: Pinterest

Indonesia sejak lama dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa karena keindahan alam dan hutan tropisnya yang luas. Hamparan hutan tropis indonesia tidak hanya sekadar hiasan alam, tetapi juga sebagai paru-paru dunia yang menyuplai jutaan oksigen bagi makhluk hidup. Akan tetapi sangat disayangkan, keberadaan paru-paru dunia kini mulai rapuh akibat keserakahan manusia yang terus menguras isi hutan demi keuntungan sendiri.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Auriga Nusantara melalui Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI 2025), deforestasi atau penggundulan hutan secara permanen untuk dialihfungsikan menjadi peruntukan non-hutan di Indonesia mencapai angka 433.751 hektar pada tahun 2025. Data tersebut menunjukkan lonjakan hingga 66% dibandingkan pada tahun 2024, yakni seluas 261.575 hektar.

Deforestasi tersebut terjadi di 383 kabupaten dan kota, atau 74% dari total 514 kabupaten dan kota di Indonesia. Sepuluh kabupaten teratas berada di Kalimantan dan Papua dengan luas deforestasi 95.733 hektar atau 22% dari deforestasi nasional. Mirisnya, data tersebut menunjukkan bahwa 71% dari defortasi justru terjadi di wilayah hutan yang dikelola oleh pemerintahan, yakni seluas 307.861 hektar di bawah Kementerian Kehutanan (auriga.or.id).

Penggundulan hutan dalam skala besar tersebut mengakibatkan reaksi berantai atau domino effect yang langsung dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk bencana alam yang silih berganti. Salah satu nya adalah banjir bandang yang menghantam beberapa wilayah Sumatera pada akhir tahun 2025. Bencana tersebut merupakan salah satu domino effect dari deforestasi yang meningkat di wilayah tersebut, yaitu Aceh (426%), Sumatera Utara (2181%), dan Sumatera Barat (1034%) (auriga.or.id).

Tidak hanya bagi manusia, dampak deforestasi tersebut juga dirasakan oleh hewan-hewan penghuni asli hutan. Ruang kehidupan yang semakin habis menjadikan populasi hewan nyaris punah.

Di tengah angka-angka ekstrem tersebut, kondisi ini menjadi ironi di dalam peringatan World Environment Day (Hari Lingkungan Hidup Sedunia). Yang biasanya hanya pengingat biasa, namun pada tahun ini menjadi alarm peringatan bagi manusia. Maka dari itu, momen ini mengajak kita semua untuk berkaca dan mempertanyakan kembali hati nurani sebagai manusia terhadap keadaan lingkungan hidup. Kehilangan ratusan ribu hektar hutan adalah bukti nyata betapa manusia telah menjadi makhluk yang paling serakah di muka Bumi.

Kita seringkali lupa bahwa setiap pohon yang tumbang bukan sekadar hilangnya sebatang kayu, melainkan matinya sebuah kehidupan. Ketika hutan digunduli, kita sedang menghancurkan masa depan generasi penerus dengan menukar udara bersih serta pelindung alami dari bencana dengan keuntungan sesaat yang hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Oleh karena itu, dalam melestarikan hutan dan lingkungan, serta mencegah angka defortasi yang semakin melunjak, pemerintah memiliki peran yang sangat krusial. Pemerintah harus menetapkan peraturan yang tegas dengan memberikan sanksi berat bagi pelaku illegal logging (pembalakan liar) dan mewajibkan pelaku industri kehutanan memiliki sertifikasi resmi.

Penerapan sistem tebang pilih dan tebang tanam bagi industri kehutanan juga penting untuk dilakukan. Selanjutnya, masyarakat dapat mengupayakan pelestarian lingkungan dengan mengurangi dan menghindari kemasan sekali pakai.

World Environment Day haruslah menjadi momen reflektif ekologis bagi seluruh masyarakat. Karena segala bencana yang timbul akibat kerusakan lingkungan adalah alarm bagi pemerintah, penegak hukum, dan kita semua. Jika hari ini kita tetap memilih menutup mata dan membiarkan eksploitasi ugal-ugalan terus berjalan, maka akan terjadi hari dimana bumi tidak ramah lagi untuk ditinggali. Menjaga hutan bukan sekadar menyelamatkan sebatang pohon, tapi juga melestarikan kehidupan dan lingkungan yang baik bagi generasi penerus.

Penulis: Fathma Mufidah Apriliani

Proofreader: Nashwa Nadrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *