Musim Ujian Tiba: Cerita Mahasiswi IIQ Mencari Ruang Belajar dan Menghafal

Kabar IIQ

Ujian akhir semester (UAS) di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta selalu jadi momen yang sangat sibuk bagi mahasiswi. Selain menghadapi ujian akademik, mahasiswi juga harus menjalani ujian tahfiz Al-Qur’an yang berlangsung pada waktu berdekatan. Di tengah kewajiban itu, kebutuhan akan ruang yang nyaman untuk belajar dan menghafal menjadi semakin penting.

Di lingkungan Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, kesibukan itu sangat terasa. Di sela jadwal kuliah, setoran tahfiz, dan berbagai aktivitas pesantren, mahasiswi tetap berusaha mencari ruang yang nyaman untuk belajar dan menghafal.

Neng Elis Aulia, mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), mempunyai ritme tersendiri dalam mengatur waktu. Selepas Maghrib hingga Isya, ia mengulang hafalan Al-Qur’an (murajaah). Setelah madrasah diniah selesai, ia kembali melanjutkan hafalannya. Di tengah padatnya aktivitas itu, masjid menjadi tempat favoritnya untuk belajar. “Suasananya nyaman dan bikin lebih mudah fokus,” katanya.

Selain masjid, ruang kelas juga menjadi pilihan mahasiswi untuk belajar. Aksesnya pun kini dirasakan lebih baik dari sebelumnya. Roehanah, mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), merasakan perbedaannya langsung sejak gedung baru hadir. Menurutnya, ruang kelas kini dapat digunakan lebih fleksibel. “Alhamdulillah sekarang bisa lebih leluasa dipakai dan waktu dikuncinya pun lebih lama,” ujarnya.

Meski demikian, fasilitas pendukung belajar masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah akses Wi-Fi.  Roehanah mengaku sinyal internet asrama belum menjangkau kamarnya yang berada di ujung gedung. “Kalau keluar kamar baru ada sinyalnya. Kita butuh Wi-Fi banget, apa lagi ngerjain tugas pakai laptop. Kalau pakai kuota sendiri boros,” ungkapnya. Padahal, di era serba digital seperti sekarang Wi-Fi bukan lagi kebutuhan tambahan, tapi kebutuhan utama.

Kendala lain dirasakan Dinda Clarita, mahasiswi Program Studi IAT. Ia mengandalkan perpustakaan sebagai ruang belajar. Tapi, jam operasional yang tidak konsisten, bahkan tutup saat akhir pekan, kerap menjadi penghalang.

“Waktu luang kita justru ada di weekend dan tugas juga sering dikerjakan saat libur. Aku yakin banyak teman merasakan hal yang sama,” ungkapnya. Perpustakaan seharusnya jadi ruang yang paling bisa diandalkan mahasiswi di tengah hiruk pikuk ujian.

Dari masjid, ruang kelas, hingga perpustakaan, setiap tempat mempunyai perannya masing-masing dalam mendukung aktivitas belajar mahasiswi. Kemajuan infrastruktur dan fasilitas kampus disambut baik oleh mahasiswi. Tapi, Wi-Fi yang belum merata dan perpustakaan yang belum sepenuhnya menyesuaikan waktu operasional dengan kebutuhan masih menjadi catatan yang menunggu perhatian.

Penulis: Rijwa Nida Hubaiba

Proofreader: Suci Sutiani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *