
Setiap 12 Rabiul Awal, umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad dengan selawat, pengajian, sampai arak-arakan. Perayaan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan keislaman selama berabad-abad di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun, di balik semaraknya perayaan ini, bagaimana sebenarnya sejarah panjang tradisi Maulid ini terbentuk dan berkembang dari masa ke masa?
Uniknya, jauh sebelum tradisi Maulid seperti yang kita kenal sekarang ada, Pada masa Nabi dan Khulafaurrasyidin, Rasulullah sendiri sudah lebih dulu memiliki caranya sendiri dalam menyikapi hari kelahirannya, yaitu lewat puasa sunah setiap hari Senin. Ketika ditanya alasannya, Rasulullah menjawab bahwa hari Senin adalah hari beliau dilahirkan sekaligus hari turunnya wahyu pertama (HR. Muslim, No. 1162) (bincang syariah.com).
Lalu, siapa yang pertama kali menggagas tradisi perayaan Maulid seperti yang kita kenal sekarang? Ada dua teori sejarah yang paling sering dirujuk. Pertama, sejarawan Al-Maqrizi mencatat perayaan ini pertama kali muncul di masa Dinasti Fatimiyah, Mesir, sekitar abad ke-10 Masehi, digagas oleh Khalifah Al-Muiz li Dinillah (liputan6.com).
Kedua, versi yang lebih populer menyebut Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang menggelar Maulid besar-besaran pada 1184 M atas usul iparnya, Muzaffaruddin. Tujuannya ketika itu cukup spesifik, yaitu membangkitkan semangat juang umat Islam di tengah Perang Salib (headlinekaltim.co). Dari momen itulah lahir karya sastra yang masih dibaca sampai sekarang, salah satunya Kitab Barzanji.
Di Indonesia sendiri, tradisi ini masuk lewat dakwah Wali Songo sekitar abad ke-15, lalu berakulturasi dengan budaya lokal hingga melahirkan berbagai bentuk perayaan, seperti Sekaten di Yogyakarta dan Maudu Lampoa di Sulawesi Selatan.
Perayaan maulid ini juga memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama. Sebagian menilainya sebagai bid’ah yang sebaiknya dihindari, sebagian lagi memandangnya sebagai bid’ah hasanah, alias inovasi yang baik selama isinya berupa selawat, sedekah, dan napak tilas keteladanan Nabi. Namun terlepas dari perbedaannya, semangat dasar perayaan maulid ini adalah rasa syukur atas diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat seluruh alam.
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya [21]:107).
Dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthub, ayat 107 ini mengabarkan bahwa Nabi Muhammad membawa sistem ajaran yang membawa kebahagiaan bagi seluruh manusia. Dalam Tafsir Kementerian Agama juga dijelaskan bahwa ajaran Islam yang dibawa Nabi merupakan rahmat yang meliputi perlindungan, kedamaian, kasih sayang dan sebagainya, yang diberikan Allah terhadap makhluk-Nya.
Dengan memahami sejarah singkat ini, Maulid Nabi bukan lagi sekadar seremoni tahunan yang dijalani begitu saja, melainkan bentuk kecintaan umat kepada Nabinya, sekaligus momen untuk terus belajar dan meneladani akhlak beliau dalam keseharian. Semoga selawat dan doa yang kita panjatkan di bulan Maulid ini menjadi jalan bagi kita untuk mendapat syafaat beliau kelak di hari akhir.
Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.
Waallahu A’lam.
Penulis : Rijwa Nida Hubaiba
Proofreader : Fathma Mufidah Apriliani