
Judul Buku : As Long As The Lemon Trees Grow
Penulis : Zoulfa Katouh
Penerbit : Bloomsbury
Tahun Terbit : 2022
Tebal Buku : 480 Halaman
Pendahuluan
Dunia pernah digemparkan oleh pecahnya perang saudara di Suriah pada tahun 2011. Konflik antara rezim dan rakyat ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan paling kompleks di abad ke-21. Melalui novel debutnya, Zoulfa Katouh, seorang penulis berdarah Suriah, menghadirkan kisah fiksi yang berakar pada kenyataan pahit yang dialami rakyat Suriah. Ia mengangkat tragedi-tragedi nyata, seperti pembantaian Karam El-Zeitoun pada 11 Maret 2012, serta berbagai peristiwa lain yang meninggalkan luka mendalam dalam sejarah negeri tersebut.
Sinopsis
Salama Kassab memiliki mimpi besar: lulus dari Universitas dengan IPK tertinggi, meraih posisi bergengsi sebagai apoteker di Rumah Sakit Zaytouna, dan menjelajahi dunia melalui perjalanan. Namun, semua impian itu harus ia kubur dalam-dalam setelah perang meletus di Suriah, yang menyebabkan ayahnya (Baba) dan kakaknya, Hamza, ditangkap. Belakangan, Salama mendapat kabar bahwa Hamza ditahan di Penjara Sednaya, salah satu penjara paling brutal di Suriah.
Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Salama dipaksa menghadapi kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, dengan pengalaman medis yang terbatas pada buku-buku kuliah, Salama harus berpartisipasi di rumah sakit untuk menyelamatkan para korban yang berjatuhan. Bukan hanya sebagai apoteker, tapi sebagai dokter dan perawat. Apa pun yang bisa ia lakukan, akan ia lakukan. Namun tentu saja, Salama sendiri juga korban. Tubuhnya menyimpan luka, sementara jiwanya dihantui oleh kehilangan. Sejak sang Mama meninggal, ia mulai melihat sosok laki-laki bernama Khawf, halusinasi yang muncul setiap hari, menemaninya melewati kegundahan hati, serta mengingatkannya akan janji yang harus ia tepati.
Di pertemuan terakhir Salama dan Hamza, sang kakak meminta Salama berjanji untuk membawa Layla, teman sekaligus iparnya, pergi ke luar Suriah. Permintaan itu bukan keputusan yang mudah bagi Salama. Tekadnya yang kuat untuk tidak pernah meninggalkan Suriah, juga biaya yang tidak murah menjadi faktornya. Namun waktu kian mendesak, kandungan Layla semakin membesar, dan melahirkan anak di tanah Suriah saat itu terlalu berisiko.
Di tengah tekanan dan pilihan yang terus menghimpit, Salama bertemu Kenan, seorang pemuda dengan semangat perjuangan yang tak pernah padam. Hadirnya Kenan perlahan membuka ruang bagi perasaan yang semula tak pernah Salama beri tempat. Cinta tumbuh di antara mereka, menghadirkan sedikit warna dalam hidup yang dikelilingi abu-abu kehancuran di kota Homs. Tapi, sampai kapan penderitaan harus mereka rasakan? Apakah meninggalkan Suriah dapat mewujudkan manisnya kebebasan yang mereka impikan?
Review
Kisah yang dihadirkan dalam buku As Long As The Lemon Trees Grow terasa begitu hidup dan menyentuh. Penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, membuat pembaca bisa membayangkan tokoh-tokohnya dan larut dalam suasana yang dibangun. Kekejaman perang, ketakutan yang menyelimuti warga, hingga semangat perjuangan yang tak pernah padam, semuanya digambarkan dengan nyata dan menyayat. Di tengah segala kekacauan itu, hadirnya romansa antara Salama dan Kenan menjadi jeda yang manis, seolah memberi napas di tengah sesak.
Meski demikian, alur yang berjalan cukup lambat dan detail konflik yang begitu rinci bisa membuat pembaca merasa lelah secara emosional. Namun justru disitulah kekuatan novel ini. Ia tidak hanya bercerita, tapi mengajak pembaca merasakan. Lewat Salama, Kenan, dan Layla, pembaca diajak menyelami luka yang ditinggalkan oleh peperangan. Belum lagi kehadiran plot twist di luar prediksi yang akan membuat pembaca tersentak.
Novel ini seperti doa yang dituliskan untuk Suriah, dan pengingat bahwa kebebasan bukan hal murah, ia harus dibayar dengan darah, kehilangan, dan keberanian yang tak terkira.
Kesimpulan
As Long As the Lemon Trees Grow adalah novel yang menggugah hati, layak dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami wajah kemanusiaan di balik konflik Suriah. Zoulfa Katouh, melalui karya debutnya ini, tidak hanya menawarkan fiksi biasa, tetapi menyulam realitas yang getir menjadi cerita yang penuh empati dan harapan. Alih-alih menyodorkan data dan laporan yang kaku, Katouh mengajak pembaca menyelami luka, ketakutan, dan kekuatan melalui sosok Salama Kassab dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup di tengah perang.
“Every lemon will bring forth a child, and the lemons will never die out.” Nizar Qabbani
Kutipan dari penyair besar Suriah ini bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi semangat yang menjalar di sepanjang halaman: bahwa selama pohon lemon masih tumbuh, kehidupan dan harapan akan terus bertahan.
Penulis : Adilah Hidayati
Profreeader: Ayfia Amireyl Fitrothy